Terima Kasih Atas Kunjungan Anda,lain kali datang lagi yah !!!

Minggu, 06 Januari 2013

Laporan Pengaruh Media Tanam Terhadap Tanaman Cabe

Laporan Biologi Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Cabe (Capsicum annum)
 
 
 
 

Pembimbing : -mariani tanjung s.pd

Disusun oleh:
ILHAM ISMAIL
kls x tkr c

SMK BARAMULI PINRANG
2010 – 2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meningkatnya harga kebutahan cabe dikalangan masyarakat tidak lepas dari menurunan produksi cabe itu sendiri. Hal ini dapat dikarenakan mengenai cara pengolahan tanaman cabe karena semakin menipisnya lahan pertanian.
Namun seringkali kita melihat abu ataupun sekam paditerbuang sia-sia. Dengan menggunakan media tanam abu sisa pembakaran tanaman padi yang sudah dipanen maupun sekam padi (kulit padi yang telah diambil berasnya) dapat mengatasi permasalahan lahan pertanian yang semakin berkurang. Akan tetapi perlu dilakukannya penelitian pengaruh serta kandungan yang terdapat pada abu dan sekam padi tersebut untuk lebih mengetahui pengaruhnya terhadap tanaman cabe.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan cabe?
2. Apakah perbedaan kecepatan tumbuh biji cabe yang menggunakan media tanam dengan tanah kebun?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan cabe.
2. Mengetahui perbedaan kecepatan tumbuh biji cabe yang menggunakan media tanam dengan tanah kebun.
D. Manfaat
 Bagi petani : Dapat memanfaatkan media tanam lain untuk menggantikan tanah
 Bagi peneliti : Dapat mengetahui unsure-unsur dalam abu dan sekam terhadap pertumbuhan cabe
 Bagi siswa : Sebagai bahan belajar tentang pengaruh pertumbuhan terhadap media tanam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hari : Senin
Tanggal : 26 Juli 2010
Jam : 15.30 wib
A. Sekam Padi Sebagai Sumber Energi Alternatif
Limbah sering diartikan sebagai bahan buangan/bahan sisa dari proses pengolahan hasil pertanian. Proses penghancuran limbah secara alami berlangsung lambat, sehingga limbah tidak saja mengganggu lingkungan sekitarnya tetapi juga mengganggu kesehatan manusia. Pada setiap penggilingan padi akan selalu kita lihat tumpukan bahkan gunungan sekam yang semakin lama semakin tinggi. Saat ini pemanfaatan sekam padi tersebut masih sangat sedikit, sehingga sekam tetap menjadi bahan limbah yang mengganggu lingkungan.
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan ternak dan energi atau bahan bakar.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot gabah. Penggunaan energi sekam bertujuan untuk menekan biaya pengeluaran untuk bahan bakar bagi rumah tangga petani. Penggunaan Bahan Bakar Minyak yang harganya terus meningkat akan berpengaruh terhadap biaya rumah tangga yang harus dikeluarkan setiap harinya.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30%, dedak antara 8- 12% dan beras giling antara 50-63,5% data bobot awal gabah. Sekam dengan persentase yang tinggi tersebut dapat menimbulkan problem lingkungan.
Ditinjau data komposisi kimiawi, sekam mengandung beberapa unsur kimia penting seperti dapat dilihat di bawah.
Komposisi kimia sekam padi menurut Suharno (1979) :
• Kadar air : 9,02%
• Protein kasar : 3,03%
• Lemak : 1,18%
• Serat kasar : 35,68%
• Abu : 17,17%
• Karbohidrat dasar : 33,71
Komposisi kimia sekam padi menurut DTC – IPB :
• Karbon (zat arang) : 1,33%
• Hidrogen : 1,54%
• Oksigen : 33,64%
• Silika : 16,98%
Dengan komposisi kandungan kimia seperti di atas, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya:
• sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia,
• sebagai bahan baku pada industri bahan bangunan, terutama kandungan silika (SiO2) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan campuran pada industri bata merah, (c) sebagai sumber energi panas pada berbagai keperluan manusia, kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.
Sekam memiliki kerapatan jenis (bulk densil)1 125 kg/m3, dengan nilai kalori 1 kg sekam sebesar 3300 k. kalori. Menurut Houston (1972) sekam memiliki bulk density 0,100 g/ ml, nilai kalori antara 3300 -3600 k. kalori/kg sekam dengan konduktivitas panas 0,271 BTU.
Untuk lebih memudahkan diversifikasi penggunaan sekam, maka sekam perlu dipadatkan menjadi bentuk yang lebih sederhana, praktis dan tidak voluminous. Bentuk tersebut adalah arang sekam maupun briket arang sekam. Arang sekam dapat dengan mudah untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang tidak berasap dengan nilai kalori yang cukup tinggi. Briket arang sekam mempunyai manfaat yang lebih luas lagi yaitu di samping sebagai bahan bakar ramah lingkungan, sebagai media tumbuh tanaman hortikultura khususnya tanaman bunga.
B. Manfaat Abu Sekam
Abu sekam memiliki fungsi mengikat logam berat. Selain itu sekam berfungsi untuk menggemburkan tanah sehingga bisa mempermudah akar tanaman menyerap unsur hara di dalamnya. sehingga masih tetap terlu campuran media lain dalam media tanaman tersebut. bagus di campur dengan kompos.
sekam ada dua jenis yang dipakai untuk tanaman hias, pertama yang hangus 50% untuk media tanam atau dicampur, tapi untuk semai bibit, adenium missalnya kurang baik, kedua yang hangus 100% ini baik untk media atau campuran dan juga baik untuk semai, lebih steril, soal kelembaban saat membuat tidak perlu diperhatikan, tapi saat aplikasinya ketanaman asal jangan becek aja. semua tanaman bisa tumbuh baik dg sekam bakar, keuntungan pakai media tanama sekam bakar adalah steril, poros, banyak unsur hara, ringan untuk mobilisasi, tapi harganya terbilang mahal, karena proses pembuatanya memakan waktu dan bahan bakar yang banyak.
Juga, bahan organik dan merupakan kompos bagi tanah. yang namanya bahan organik itu berfungsi memperbaiki sifat tanah dan membantu mengikat unsur nitrogen, fospor, dan kalium (NPK) dalam tanah agar tidak lari kemana2 karena kalo unsut2 tsb lari, tanaman akan kekurangan. tanpa tanahpun dia akan berfungsi menahan unsur2 tadi, makanya tanaman bisa hidup jika ditanam di sekam atau abu sekam.
tapi ingat, kandungan unsur hara sekam itu tak sebanyak yang ada di pupuk buatan, maka penggunaan yang terbaik adalah dengan mencampur antara kompos (misalnya sekam) dan pupuk buatan, dengan intensitas sesuai kebutuhan tanah.
Tahukah kalian:Ternyata abu sekam padi ini sangat kaya akan silica (Si) yang dalam oksidanya dikenal dengan silica dioxide. Sebenarnya penggunaan silica dalam dunia konstruksi khususnya teknologi beton sudah mulai dipakai sebagai bahan tambah. Hebatnya silica yang dari abu sekam padi ini tidak kalah dengan silica fume yang harganya cukup tinggi. Namun sayangnya, pertumbuhan tanaman padi dewasa ini telah berganti dengan pertumbuhan beton dan bata. Sehingga prospek usaha untuk pengembangan silica dari abu sekam padi akan semakin suram.
Dari penelitian yang dilakukan secara intensif sejak tahun 1997 hingga 2005, didapat kesimpulan akhir bahwa abu sekam padi ini sangat potensial digunakan dalam bidang geoteknik terutama untuk perbaikan tanah. Dengan sedikit memberikan sentuhan iptek pada proses pembakaran, kandungan silica yang dihasilkan dapat mencapai diatas 90%. Sunggung nilai yang fantastis bukan. Dari catatan, 1995-2001, produksi sekam padi di Indonesia adalah bisa mencapai 4 juta ton per tahunnya. Berarti abu sekam yang dihasilkan 400 ribu ton per tahun. Inikan bisa menjadi nilai bagi para petani padi, jika ia tahu akan manfaatnya.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan
A. Faktor Luar
1. Air dan Mineral Þ berpengaruh pada pertumbuhan tajuk 2 akar. Diferensiasi salah satu unsur hara atau lebih akan menghambat atau menyebabkan pertumbuhan tak normal.
2. Kelembaban.
3. Suhu Þ di antaranya mempengaruhi kerja enzim. Suhu ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan yang paling baik adalah suhu optimum, yang berbeda untuk tiap jenis tumbuhan.
4. Cahaya Þ mempengaruhi fotosintesis. Secara umum merupakan faktor penghambat.
Etiolasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat di tempat yang gelap
Fotoperiodisme adalah respon tumbuhan terhadap intensitas cahaya dan panjang penyinaran.
B. Faktor Dalam
1. Faktor hereditas.
2. Hormon.
a. Auksin
adalah senyawa asam indol asetat (IAA) yang dihasilkan di ujung meristem apikal (ujung akar dan batang). F.W. Went (1928) pertama kali menemukan auksin pada ujung koleoptil kecambah gandum Avena sativa.
  • membantu perkecambahan
  • dominasi apikal
b. Giberelin
Senyawa ini dihasilkan oleh jamur Giberella fujikuroi atau Fusarium moniliformae, ditemukan oleh F. Kurusawa.
Fungsi giberelin :
  • pemanjangan tumbuhan
  • berperan dalam partenokarpi
c. Sitokinin
Pertama kali ditemukan pada tembakau. Hormon ini merangsang pembelahan sel.
d. Gas etilen
Banyak ditemukan pada buah yang sudah tua
e. Asam absiat
f. Florigen
g. Kalin
Hormon pertumbuhan organ, terdiri dari :
  • Rhizokalin
  • Kaulokali
  • Filokalin
  • Antokalin
h. Asam traumalin atau kambium luka
Merangsang pembelahan sel di daerah luka sebagai mekanisme untuk menutupi luka

BAB III METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Waktu : 25 Juli 2010
Tempat : SMAN 1 Jetis
B. Objek
Tanaman cabe
C. Alat dan Bahan
1. Bekas wadah air mineral gelasan sebanyak pot 9 gelas
2. Tanah kebun, abu, dan sekam
3. Biji cabe 27 buah
4. Mistar / alat tulis
5. Takaran media tanam
B. Prosedur Pelaksanaan
1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Mengisi 9 wadah air mineral dengan media tanam
Pot A = 3 wadah air mineral diisi sekam
Pot B = 3 wadah air mineral diisi abu
Pot C = 3 wadah air mineral diisi tanah kebun
3. Menanam biji cabe pada pot masing – masing 3 biji
4. Mengamati dengan mengukurnya selama 7 hari
Gambar Perlakuan
Pot A
A1 A2 A3
Pot B
B1 B2 B3
Pot C
C1 C2 C3
Keterangan :
Deret pot A (A1, A2, A3) = abu
Deret pot B (B1, B2, B3) = sekam
Deret pot C (C1, C2, C3) = tanah
E. Variabel
1. Bebas - Banyak sedikitnya media tanam pada penanaman biji cabe
2. Terikat - Pertumbuhan batang dan daun yang indicator tinggi batang, jumlah daun dan warna daun
3. Kontrol - Biji cabe dengan menggunakan tanah kebun
F. Rancangan Penelitian
1. Kelompok A - Pot A1, A2, A3 menggunakan media tanam sekam ½ gelas mineral
2. Kelompok B - Pot B1, B2, B3 menggunakan media tanam abu ½ gelas mineral
3. Kelompom C - pot C1, C2, C3 menggunakan media tanam kebun ½ gelas mineral
G. Jadwal penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, kami melakukannya setiap tiga hari sekali yaitu pada hari,
1. Jum’at 30 Juli 2010
2. Senin 2 Agustus 2010
3. Kamis 5 Agustus 2010
Pada setiap penelitian kami mencatat hasil dari pertumbuah tanaman cabe sehabis KBM selesai.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tabel Pengamatan
Setelah melakukan sebuah percobaan, hasil dari pengamatan tinggi batang, jumlah daun serta warna daun pada tanaman cabe kita masuk kedalam sebuah table hasil pengamatan. Dan berikut hasil dari pengamatan tersebut.
Pot Biji Indikator
Tinggi Batang Jumlah Daun Warna Daun
Hari Hari Hari
1 3 7 Rata 1 3 7 Rata 1 3 7
A1 1 2 3,1 3,1 2,825 2 2 2 2 hijau hijau hijau
2 0,5 1,1 1,5 0,95 - - - - - - -
A2 1 3 3,8 4,3 2,35 2 2 2 2 hijau hijau Hijau
2 - 3,7 3,6 3,35 - 2 2 1 hijau hijau Hijau
A3 1 2 3,1 3 2,775 2 2 2 2 hijau hijau Hijau
2 - 1,4 1,5 1,45 - - - - - - -
B1 1 1 layu kering mati 2 - - 1 hijau layu mati
2 - 1 mati 1 - - - - - - -
B2 1 1 mati mati mati 2 - - 1 hijau layu mati
2 - 0,7 mati 0,7 - - - - - - -
B3 1 2 mati mati mati 2 2 - 2 hijau layu mati
2 0,5 mati mati - - - - - - - -
C1 1 0,5 2 5 1,25 - - 2 - - - Hijau
2 - 1,6 3,1 0,8 - - - - - - -
C2 1 3 5,4 3,3 4,2 2 2 2 2 hijau hijau hijau
2 0,5 4 3,1 2,25 - 2 2 1 - hijau hijau
C3 1 1,5 5,1 5,5 3,3 2 2 2 2 hijau hijau hijau
2 1,5 3,1 3,5 2,3 - 2 2 1 - hijau hijau
B. Grafik
Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan pertumbuhan tanaman cabe di setiap media tanam yang digunakan, maka kami sajikan grafik pertumbuhan sebagai berikut.
Gambar 1. Grafik tentang pertumbuahan tinggi tanaman cabe
Gambar 1.2. Gambar tentang jumlah daun pada tanaman cabe
  • Keterangan
1) Rata – rata tinggi batang pada,
Pot A
A 1 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 1,8875
A 2 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 2,85
A 3 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 2,1125
Rata – rata keseluruhan pada potA (A 1, A 2,A 3) adalah 2,283
Pot B
B 1 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 0,5
B 2 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 0,35
B 3 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang -
Rata – rata keseluruhan pada pot B (B 1, B 2, B 3) adalah 0,283
Pot C
C 1 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 1,025
C 2 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 3,225
C 3 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 2,8
Rata – rata keseluruhan pada pot C (C 1, C 2, C 3) adalah 2,35
2) Rata – rata jumlah daun pada,
Pot A
A 1 : rata – rata jumlah daun 1
A 2 : rata – rata jumlah daun 1,5
A 3 : rata – rata jumlah daun 1
Rata – rata keseluruhan pada potA (A 1, A 2,A 3) adalah 1,167
Pot B
B 1 : rata – rata jumlah daun 0,5
B 2 : rata – rata jumlah daun 0,5
B 3 : rata – rata jumlah daun 1
Rata – rata keseluruhan pada pot B (B 1, B 2, B 3) adalah 0,67
Pot C
C 1 : rata – rata jumlah daun -
C 2 : rata – rata jumlah daun 1,5
C 3 : rata – rata jumlah daun 1,5
Rata – rata keseluruhan pada pot C (C 1, C 2, C 3) adalah 1
C. Pembahasan
 Abu
Menurut pendapat Sullivan, Ketika kayu terbakar, nitrogen dan sulfur hilang sebagai gas, dan kalsium, kalium, magnesium dan trace elemen senyawa tetap. The karbonat dan oksida yang tersisa setelah pembakaran kayu adalah agen pengapuran berharga, menaikkan pH, sehingga membantu untuk menetralkan tanah asam. Jadi, abu sangat baik untuk media tanam karena mengandung , berisi sebagian besar dari 13 nutrisi penting tanah harus pasokan untuk pertumbuhan tanaman.
Namun factor di lapangan ketika kami melakukan penelitian tanaman cabe tidak dapat tumbuh subur dengan media tanam abu. Diduga kami terlalu sering melakukan penyiraman terhadapat tanaman tersebut karena ketika abu menjadi basah, itu kehilangan sifat-sifatnya menghambat. penggunaan terus-menerus abu dengan cara ini dapat meningkatkan pH tanah terlalu banyak, atau mengakumulasi kadar garam yang tinggi berbahaya bagi tanaman.
 Sekam
Berdasarkan pendapat dari Suharno (1979) komposisi kimia sekam padi adalah Kadar air : 9,02%, Protein kasar : 3,03%, Lemak : 1,18%, Serat kasar : 35,68%, Abu : 17,17%, Karbohidrat dasar : 33,71. Dengan komposisi kandungan kimia seperti di atas, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antara sebagai media tanam. Dan itu terbukti apa yang telah kami lakukan dilapangan. Tanaman cabe dengan media tanam sekam dapat tumbuh dengan subur dengan penyiraman yang kami lakukan.

BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian diatas maka kesimulan yang dapat ditarik, pengaruh media tanam abu bersifat penghambat pertumbuhan tanaman cabe yang mengakhibatkan tidak dapat tumbuh subur bahkan mati, hal ini dikarenakan media tanam abu tidak perlu terlalu sering disirami, karena apabila terlalu sering disirami maka abu akan kehilangan beberapa kandungan penting yang berguna untuk pertumbuhan.
Sementara itu media tanam yang paling bagus digunakan untuk menjadi solusi semakin krisisnya lahan pertanian adalah menggunakan media tanam sekam. Karena sekam padi memiliki unsure – unsure kandungan yang sangat bagus untuk media tanam salah satunya tanaman cabe.Hal ini dibuktikan dengan perbandingan tinggi batang antara sekam padi, abu, dan tanah secara berturut – turut menunjukan sebagai berikut,
Pot A :2,283
Pot B :0,283
Pot C :2,35
Sementara untuk perbandingan jumlah daun pun demikian,
Pot A : 1,167
Pot B : 0,67
Pot C : 1
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa sekam padi jauh lebih bagu untuk digunakan sebagai media tanam dari pada abu, karena sekam padi memiliki tinggkat kesuburan pada tanah kebun.
LAMPIRAN
A. Lampiran 1
Hari 1 (Jum’at 30 Juli 2010)
A
B C
Hari 3 (Senin 2 Agustus 2010)
A B C
Hari 3 (Kamis 5 Agustus 2010)
A B C
B. Lampiran II
  • Dalam melakukan penelitian ini, yang pertama kami lakukan pada tanggal 25 Juli 2010 adalah melakukan perkecambahan terlebih dahulu
  • Selanjutnya setelah tanaman cabe dapat berkecambah pada tanggal 30 Juli 2010, kami memindahnya kedalam pot yang telah diisi dengan media tanam yang berbeda (abu, sekam, tanah). Dan memulai melakukan perlakukan pada tanaman cabe tersebut.
  • Pada tanggal 31 Juli 2010 pada pukul 13.30 (sehabis KBM) kami melakukan penyiraman di setiap masing tanaman.
  • Senin, tanggal 2 Agustus kami mencatat hasil dari pertumbuhan tanaman cabe. Namun pada penelitian yang kedua ini, tanaman cabe pada pot dengan media tanam abu tidak dapat berkembang dan tampak layu di bandingkan dengan media tanam sekam.
  • Pada tanggal 5 Agustus 2010 kami melakukan penelitian yang ketinga. Dan pada penelitian tersebut kami mendapati bahwa tanaman cabe dengan media tanam abu sudah mati. Sementara media tanam sekam memiliki tingkat kesuburan hampir mendekati dengan tanah kebun.
Daftar Pustaka :


Laporan Penelitian Tanaman Cabai Terhadap beberapa pupuk yang berbeda-beda


LAPORAN
METODE ILMIAH
HASIL PENELITIAN TANAMAN CABAI




 
 

SMK BARAMULI PINRANG 
X -TKR C
2011-2012
DI SUSUN OLEH :
ILHAM ISMAIL
Makalah Penelitian
Perbandingan Pertumbuhan Tanaman
Terhadap Pemberian Pupuk Kimia dan Pupuk Alami
pada Tanaman Cabai
Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas petubjuknya, kami semua dapat membuat makalah tentang  Perbandingan Pertumbuhan Tanaman Terhadap Pemberian pupuk Kimia dan juga pupuk alami.
Alhamdulillah saya dan kawan-kawan telah melakukan penelitian, perbandingan tanaman terhadap pemberian pupuk kimia dan pupuk alami pada tanaman cabai merah. Disini kalian akan melihat bagaimana proses perbandingan pertumbuhan tanaman terhadap pemberian pupuk kimia dan pupuk alami pada tanaman cabai.
Melalui makalah ini kalian akan banyak mengetahui tentang perbandingan pertumbuhan tanaman terhadap pemberian 4 pupuk kimia :
1.       Pupuk Urea
2.       Pupuk NPK
3.       Pupuk NPK Kuning
4.       Pupuk NPK Biru,
dan 4 pupuk alami :                                                  
1.       Pupuk Kandang kotoran kambing
2.       Pupuk Abu bakar
3.       Pupuk Kompos
4.       Pupuk Kandang kotoran ayam .
Semoga dengan makalah ini kalian bisa lebih banyak mengetahui tentang perbandingan pertumbuhan tanaman terhadap pemberian beberapa pupuk alami dan beberapa pupuk kimia dan semoga makalah ini dapat bermanfaat buat kita semua....
Selamat  mempelajarinya.
Cibinong,Bogor November 2011
Siti .N. Wiajaynti
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................... iii
Bab. I. Pendahuluan...............................................................................................iv
1.1.         Latar Belakang Masalah.................................................................... 1
1.2.         Rumusan Masalah............................................................................. 2
1.3.         Tujuan Penelitian.............................................................................. 2
1.4.         Hipotesis Penelitian.......................................................................... 2
1.5.         Bab II. Tinjauan Pustaka..................................................................... 3
Bab III. Bahan dan metode kerja............................................................................ 4
Bab IV. Hasil dan analisasi/ pembahasan.................................................................5
Bab v. Kesimpulan dan saran.................................................................................. 6

Pendahuluan
Makalah ini memegang peranan yang sagat penting  dalam peningkatan bercocok tanam, terhadap tanaman cabi. Di dalam makalah ini menjelaskan tentang  Perbandingan Pertumbuhan Tanaman Terhadap Pemberian Pupuk Kimia dan juga Pupuk Alami.
Melalui makalah ini kalian akan banyak mengetahui bagaimana proses  perbandingan pertumbuhan tanaman terhadap pemberian 4 pupuk kimia :
1. Pupuk Urea
2. Pupuk NPK
3. Pupuk NPK Kuning
4. Pupuk NPK Biru,
4 pupuk alami :                                                           
1. Pupuk Kandang kotoran kambing
2. Pupuk Abu bakar
3. Pupuk Kompos
4. Pupuk Kandang kotoran ayam.
Dan 2 polibek tidak memakai pupuk
Selamat mempelajarinya J

Latar Belakang Masalah
Cabai merah (Capsicum annum var. Longum) merupakan  tanaman sayuran yang masuk dalam suku solanaceae.
 Klasifikasi :

kingdom       : Plantarun
Divisi            : Spermatophyta
Subdivisi       : Angiospermae
Klas              : Dicotyledoneae
Subklas         : Sympetalae
Ordo             : Tubiflorae
Famili            : Solanaceae
Genus           : Capsicum
Spesies         : Capsicum annum L

Menurut berbagai keterangan cabai berasal dari peru yang masuk ke Indonesia d dibawa oleh bangsa portugis. Pada awal tahun1500-an  masehi. Tapi ada juga yang menyebutnya dibawa oleh saudagar persia dalam perdagangan.
Cabi dibagi dalam 2 golongan utama, yaitu
1. Cabai besar (Capsicum annum L)
  a. Cabai Merah (hot Pepper /cabai pedas)
  b. Cabai Hijau
  c. Cabai Paprika (Sweet Pepper/ cabai manis)

2. Cabai rawit (Capsicum frutescens.L)

dua golongan cabai tersebut  biasanya ada yang Hibrida  dan ada yang non Hibrida.
Tumbuhan cabai yang mulanya kecil tumbuh menjadi besar seiring dengan berjalannya waktu dan perlakuan yang diperolehnya. Pertumbuhan yang dialami oleh tumbuhan cabai tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah pemberian nutrisi. Dalam hal ini adalah jenis pupuk.
Oleh karena itu kami memilih pengaruh pupuk kimia dan pupuk alami dan juga penanaman tidak memakai pupuk terhadap pertumbuhan tanaman cabai sebagai objek penelitian kami.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat menarik suatu rumusan masalah sebagai berikut :
1.    Apakah berbagai  jenis-jenis pupuk alami mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman cabai merah?
2.    Apakah berbagai  jenis-jenis pupuk kimia mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman cabai merah?
3.    Apakah  jika tidak memaki pupuk akan mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman cabai?
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis-jenis pupuk kimia dan pupuk alami terhadap pertumbuhan tanaman cabai.
Hipotesis Penelitian
Jenis-jenis  pupuk yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman cabai rawit.

Tinjauan Pustaka
Cabai merah (Capsicuslanum)merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Ciri dari jenis sayuran ini rasanya pedas dan aromanya khas, sehingga bagi orang-orang tertentu dapat membangkitkan selera makan. Permintaan cabai menunjukkan indikasi yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan stabilitas ekonomi nasional yang mantap. Wilayah Cianjur Selatan area dan kondisi tanahnya sangat cocok untuk menanam cabai merah ini.
Metode ilmiah ini dibuat sebagai salah satu tugas di SMK Generasi Madani untuk tugas mata pelajaran IPA, kami membuat metode ilmiah ini mengamati tentang pertumbuhan cabai terhada beberapa jenis pupuk.
Dengan adanya metode ilmiah ini diharapan siswa dapat mengerti cara menanam cabai yang benar dan baik. Dan adanya pengetahuan tersebut dapat menjadi landasan untuk diplementasikan dalam kehidupan sehari – hari bukan teori semata saja.
Langkah Percobaan
ü  Seleksi biji cabai dengan cara merendam biji cabai yang akan ditanam ke dalam air.
o   Amati biji. Jika biji tenggelam,maka biji itu yang baik untuk ditanam. Sedangkan jika biji tersebut terapung maka biji tersebut kurang baik untuk ditanam.
o   Jadi pilih biji yang tenggelam.
ü  Jemur biji cabai yang telah dipilih selama 24 jam.
ü  Siapkan media yang diperlukan untuk penanaman biji cabai seperti polibek, tanah, biji, dll.
ü  Masing – masing polibek diberi tanda.
ü  Tanam biji cabai pada polibek yang telah diisi oleh tanah dengan takaran yang sama.
ü  Beri pupuk yang berbeda ke dalam masing – masing pot.
ü  Amati dan catat pertumbuhan tanaman cabai pada masing – masing polibek setiap hari.

Bahan dan metode kerja
Alat dan Bahan

1.                Alat:
-  10 polibek
-  sekop
-  penggaris
-  alat tulis
2.    Bahan :
-  beberapa biji cabai
-  tanah
-  pupuk buatan: NPK, NPK kuning, NPK biru dan Urea
-  pupuk alami: pupuk kotoran ayam, pupuk kotoran kambing,pupuk abu bakaran,pupuk kompos
-  air


Hasil dan Analisis/Pembahasan
v Pada polibek pemberian pupuk kotoran ayam,kotoran kambing dan pupuk kimia NPK kuning, ternyata pertumbuhannya dari hari ke-1 sampai hari ke-31 bisa sampai tumbuh semua.
v Pada polibek pemberian pupuk abu bekas bakaran , urea, NPK biru dan NPK biasa pada hari k-20 ternyata tidak dapat bertumbuh tanaman ini mati.
v Pada polibek pemberian pupuk kompos  ternyata pada hari ke-1 sampai hari ke-20 tanamannya  layu.
v Pada polibek” A” yang tidak di beri pupuk  tenyata pada hari ke-1 sampai hari ke-20 tanamannya layu.
v Pada polibek “B” yang tidak di beri pupuk ternyata pada hari ke-1 sampai hari ke-20 tanamannya mati.
Pembahasan
Ø Hasil pengamatan ini,dari hari ke-1 sampai ke- 31 yang tumbuh 31 hari hanya ada 3 polibek, yaitu pada pemberian pupuk alami (kotoran ayam),kotoran kambing,dan pupuk kimia (NPK kuning).
Ø Dan yang lain dari hari ke-1 sampai ke-31 hanya tumbuh sampai hari ke-16,hari ke-19. Dan ada beberapa polibek yang tanamannya layu pada hari ke-20.

Kesimpulan
v Kesimpulan :
Ø Pertumbuhan tanaman cabei yang telah diteliti ini ternyata pertumbuhannya berbeda-beda ada yang tumbuh sampai 31hari ada juga yang tidak.
Ø Dan rata-rata pertumbuhannya ada pada mati dan layu.