Terima Kasih Atas Kunjungan Anda,lain kali datang lagi yah !!!

Minggu, 06 Januari 2013

pengaruh naungan terhadapa tanaman tomat




KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga laporan yang berkaitan dengan Ekologi Tanaman dapat kami selesaikan tepat pada waktunya meski dalam bentuk yang jauh dari kesempurnaan.
Kami menyadari bahwa, penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan.  Oleh karena itu, saran dan kritik yang bisa membangun sangat kami harapkan dalam penyempurnaan penulisan laporan dimasa yang akan datang.
Selain itu pula, penulisan laporan ini tidak akan mungkin selesai tepat pada waktunya apabila penulis tidak mendapat dukungan dari semua pihak.
Kami berharap laporan ini dapat diterima oleh semua pihak, utamanya oleh dosen bidang studi Ekologi Tanaman sebagai salah satu bukti penyelesaian tugas yang diberikan kepada kami.
Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas laporan ini dan semoga dapat bermanfaat dalam proses pembelajaran.amin.

Pinrang
 ,  Januari 2012

    Penulis



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL    
HALAMAN PENGESAHAN    
KATA PENGANTAR    
DAFTAR ISI    
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang    
1.2.    Perumusan masalah
1.3.    Hipotesis    
1.4.    Tujuan dan Kegunaan    
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Botani tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.)    
2.2. Respon tanaman terhadap cahaya matahari    
BAB III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat Dan Waktu    
3.2. Metode Percobaan    
3.3. Pelaksanaan Percobaan    
3.4. Parameter Pengamatan    
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil    
4.2. Pembahasan    
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan    
5.2. Saran    
DAFTAR PUSATAKA    
LAMPIRAN    
DOKUMENTASI    

BAB I. PENDAHULUAN
1.1.     Latar Belakang
Tanaman tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani, selain itu tomat merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak digemari orang karena rasanya enak, segar dan sedikit asam.
Sentral produksi tanaman tomat di Indonesia adalah pulau Jawa, akan tetapi juga dikembangkan di luar pulau Jawa hampir di seluruh Indonesia. Di Sulawesi Selatan potensi lahan untuk tanaman tomat cukup baik. Sasaran pengembangannya diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan lahan berdasarkan potensi yang dimiliki dan kesesuaian agroekologi.
Seiring dengan maraknya masyarakat untuk menanam tanaman tomat, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun untuk tanaman hias, pada akhirnya akan menuntut teknik budidaya. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pemberian naungan yang berguna untuk melindungi tanaman tomat dari sinar terik matahari langsung. Pemberian naungan dapat dilakukan dengan cara membuat green house ataupun dengan menggunakan plastik mulsa atau kain.
1.2.     Perumusan masalah
Bagaimanakah perbedaan pertumbuhan tanaman tomat yang diletakkan dalam ruangan (kurang cahaya) dan tanaman tomat yang diletakkan di luar ruangan (yang mendapatkan banyak cahaya)?


1.3.    Hipotesis
Hipotesa penelitian ini adalah, jika tanaman tomat diletakkan di luar ruangan maka pertumbuhannya akan lebih lambat namun daunnya tampak lebih lebar, tebal, hijau tampak segar dan batang kecambah tampak lebih kokoh. Dan jika tanaman tomat diletakkan di dalam ruangan maka batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah, daunnya berukuran kecil, tipis dan berwarna pucat tidak hijau.
1.4. Tujuan dan manfaat
1. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat.
2.     Manfaat
Manfaat yang kita ambil adalah kita dapat mengetahui pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhan tanaman tomat.








BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.     Botani tanaman tomat
Sistematika tanaman tomat dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini :
A. Klasifikasi
Kingdom    : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi    : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas    : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas    : Asteridae
Ordo    : Solanales
Famili    : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus    : Solanum
Spesies    : Solanum lycopersicum L.
B. Morfologi tanaman tomat
1.    Akar
Tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) memiliki akar tunggang yang tumbuh menembus kedalam tanah dan akar serabuat yang tumbuh ke arah samping tetapi dangkal. Berdasarkan sifat perakaran ini, tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) akan dapat tumbuh dengan baik jika ditanam ditanah yang gembur dan porous.
2.    Batang
Batang tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) berbentuk persegi empat hingga bulat, berbatang lunak tetapi cukup kuat, berbulu atau berambuat halus dan diantara bulu – bulu itu terdapat rambut kelenjar. Batang tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) berwarna hijau, pada ruas – ruas batang mengalami penebalan, dan pada ruas bagian bawah tumbuh akar – akar pendek. Selain itu, batang tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) dapat bercabang dan apabila tidak dilakukan pemangkasan akan bercabang banyak yang menyebar secara merata.
3.    Daun
Daun tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) berbentuk oval, bagian tepinya bergerigi dan mambentuk celah – celah menyirip agak melengkung kedalam. Daun berwarna hijau dan merupakan daun majemuk ganjil yang berjumlah 5 – 7. Ukuran daun sekitar (15 – 30 cm) x (10 x 25 cm) dengan panjang tangkai sekitar 3 – 6 cm. diantara daun yang berukuran besar biasanya tumbuh 1 – 2 daun yang berukuran kecil. Daun majemuk pada tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) tumbuh berselang seling atau tersusun spiral mengelilingi batang tanaman.
4.    Bunga
Bunga tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) berukuran kecil, berdiameter sekitar 2cm dan berwarna kuning cerah. Kelopak bunga yang berjumlah 5 buah dan berwarna hijau terdapat pada bagian bawah atau pangkal bunga. Bagian lain pada bunga tomat (Solanum lycopersicum L.) adalah mahkota bunga, yaitu bagian terindah dari bunga tomat (Solanum lycopersicum L.). Mahkota bunga tomat (Solanum lycopersicum L.) berwarna kuning cerah, berjumlah sekitar 6 buah dan berukuran sekitar 1 cm. bunga tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan bunga sempurna, karena benang sari atau tepung sari dan kepala benang sari atau kepala putik terletak pada bunga yang sama. Bunganya memiliki 6 buah tepung sari dengan kepala putik berwarna sama dengan mahkota bunga, yakni kuning cerah. Bunga tomat (Solanum lycopersicum L.) tumbuh dari batang (cabang) yang masih muda.
5.    Buah
Buah tomat (Solanum lycopersicum L.) memiliki bentuk bervariasi, tergantung pada jenisnya. Ada buah tomat (Solanum lycopersicum L.) yang berbentuk bulat, agak bulat, agak lonjong, bulat telur (oval), dan bulat persegi. Ukuran buah tomat (Solanum lycopersicum L.) juga sangat bervariasi, yang berukuran paling kecil memiliki berat 8 gram dan yang berukuran besar memiliki berat sampai 180 gram. Buah tomat (Solanum lycopersicum L.) yang masih muda berwarna hijau muda, bila sudah matang warnanya menjadi merah.
C. Tehnik Budidaya Tanaman Tomat
1.    Syarat Tumbuh
Tanaman tomat dapat tumbuh pada ketinggian tempat 0 - 1.250 m dpl, dan tumbuh optimal di dataran tinggi >750 mdpl. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23°C pada siang hari dan 17°C pada malam hari. Tanah yang dikehendaki adalah tanah bertekstur liat yang banyak mengandung pasir. Dan, akan lebih disukai bila tanah itu banyak mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuknya adalah netral, yaitu sekitar 6 - 7.
2.    Penyiapan Lahan Bercocok Tanam Tomat
Untuk bercocok tanam tomat dipilih lahan gembur, subur dan sebaiknya sebelumnya tidak ditanami tomat atau tanaman satu famili, seperti : cabai, terong, tembakau dan kentang. Bila pH tanah rendah diberi kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam. Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal. Untuk drainase dibuat parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air. Berikan pupuk kandang sebanyak 10 - 20 ton/ha yang dicampur dengan tanah secara merata. Bila menggunakan mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari. Lubang tanam dibuat dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm. Sterilisasi tanah media dilakukan dengan memberikan bahan kimia Besamid 3 G dengan dosis 70 gram untuk media tanam sebanyak 1m3 atau menggunakan formalin 4%.
3.    Pengadaan Benih Tomat
Pengadaan benih tomat dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan membeli benih yang siap semai atau dengan membuat benih sendiri. Apabila pengadaan benih tomat dilakukan dengan cara membeli, hendaknya membeli di toko pertanian yang terpercaya menyediakan benih yang bermutu dan bersertifikat. Pengadaan benih yang dilakukan dengan membuat sendiri adalah sebagai berikut:
a) Pilih buah tomat dari tanaman tomat yang petumbuhannya dan produksinya yang bermutu baik. Buah yang dipilih adalah buah tomat yang telah masak dan tua dan masak di pohon. Buah sehat dan tidak terserang hama ataupun penyakit.
b) Buah setelah dipetik dibiarkan sampai merekah dan berair (2 - 3 hari).
c) Biji-biji diambil setelah buah tomat merekah dan cucilah dengan air bersih, kemudian dikeringkan sehingga kadar airnya paling tinggi 12%. Biji-biji tomat yang telah dikeringkan dapat langsung disemaikan atau disimpan terlebih dahulu dalam wadah, misalnya kaleng atau botol kering sambil menunggu saatnya untuk disemaikan.
4.    Pembibitan Tomat
Tanaman tomat berkembang biak secara generatif atau melalui biji, maka perbanyakan bibit tomat dilakukan dengan bijinya. Sebelum ditanam di kebun, biji-biji tomat sebaiknya disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Pemindahan bibit ke lapang dilakukan sewaktu bibit berumur 1 bulan atau daunnya telah berjumlah 4 helai. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Gondol, Intan, Ratna dan Berlian. Kebutuhan benih 200 – 300 gram/ha.
5.    Penanaman
Bibit siap tanam berumur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6. Sehari sebelum penanaman sebaiknya bedengan diairi dahulu. Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru. Penyiraman dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), namun tidak berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Ajir dipasang sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat.
6.    Pemupukan
Pupuk yang digunakan untuk 1 Ha adalah urea 150 kg, TSP 100 kg dan KCL 50 kg. Pemupukan TSP dan KCL diberikan pada saat tanam dan urea diberikan 14 hari setelah tanam sebanyak 75 kg dan sisanya 35 hari setelah tanam.
7.    Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan mencabut gulma menggunakan tangan atau alat penyiang lainnya.
8.    Pengendalian hama dan penyakit tanaman tomat
Hama ulat yang menyerang tanaman muda dengan memotong batang dan tangkai adalah Agrotis ipsilon dapat disemprot dengan Hostathion 40 EC dan Dursban 20 ES. Hama Heliothis armigera yang menyerang buah menjadi bolong dapat diberantas dengan menggunakan Diasenon 60 EC. Rhizoktonia sp dan Pythium sp yang menyerang pesemaian dapat diberantas dengan Dhitane M-45. Penyakit busuk daun (Phytopthorasp) dapat diberantas dengan bubur bordeux. Penyakit layu dan virus keriting dikendalikan dengan mencabut tanaman yang terserang penyakit lalu dibakar.
9.    Panen Tomat
Panen tomat dilakukan sesuai dengan tujuan pemasarannya sehingga perlu diperhitungkan lama perjalanan sampai di tujuan. Sebaiknya tomat berada di pasaran pada saat masak penuh, tetapi tidak terlalu masak atau busuk. Pada saat masak penuh itulah tomat memperlihatkan penampilannya yang terbaik. Jika tujuan pemasaran adalah pasar lokal yang jaraknya tidak begitu jauh, dapat ditempuh dalam beberapa jam, panen sebaiknya dilakukan sewaktu buah masih berwarna kekuning-kuningan. Sedangkan untuk pemasaran ke tempat yang jauh atau untuk di ekspor, buah sebaiknya dipetik sewaktu masih berwarna hijau, tetapi sudah tua benar. Atau 8-10 hari sebelum menjadi masak (berwarna merah). Umur petik tergantung varietas tomat yang ditanam dan kondisi tanaman. Umumnya buah tomat dapat dipanen pertama pada waktu berumur 2 atau 3 bulan setelah tanam.
Panen dilakukan beberapa kali, yaitu antara 10-15 kali pemetikan buah dengan selang 2-3 hari sekali. Pemetikan dapat dilakukan pagi atau sore hari. Dan, diusahakan buah yang dipetik tidak jatuh atau terluka. Karena hal ini dapat menurunkan kualitas dan dapat menjadi sumber masuknya bibit penyakit.
2.2. Respon tanaman terhadap cahaya matahari
1. Intensitas Cahaya.
Intensitas cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan per satuan waktu (kal/cm2/hari). Pengertian intensitas disini sudah termasuk didalamnya lama penyinaran, yaitu lama matahari bersinar dalam satu hari, karena satuan waktunya menggunakan hari. Besarnya intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tidak sama utuk setiap tempat dan waktu, karena tergantung :
a. Jarak antara matahari dan bumi, misalnya pada pagi dan sore hari intensitasnya lebih rendah dari pada siang hari karena jarak matahari lebih jauh. Juga di daerah sub tropis, intensitasnya lebih rendah dibanding daerah tropis. Demikian pula di puncak gunung intensitasnya (1,75 g.kal/cm2/menit) lebih tinggi dari pada di dataran rendah (di atas permukaan laut = 1,50 g.kal /cm2/menit).
b. Tergantung pada musim, misalnya pada musim hujan intensitasnya lebih rendah karena radiasi matahari yang jatuh sebagian diserap awan, sedangkan pada musim kemarau pada umumnya sedikit awan sehingga intensitasnya lebih tinggi.
c. Letak geografis, sebagai contoh daerah di lereng gunung sebelah utara/selatan berbeda dengan lereng sebelah timur/barat. Pada daerah tanaman menerima sinar matahari lebih sedikit dari pada sebelah utara/selatan karena lama penyinarannya lebih pendek disebabkan terhalang oleh gunung. Bahkan lereng sebelah barat dan timur itu sendiri juga sering terdapat perbedaan terutama pada musim hujan. Hal ini disebabkan karena musim hujan biasanya banyak sore hari sehingga lebih banyak awan dibanding pagi hari, akibatnya lereng sebelah barat yang baru meneroma sinar matahari sore hari akan mendapatkan radiasi dengan intensitas yang sangat rendah.
Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sejauh mana berhubungan erat dengan proses fotosintesis. Dalam proses ini energi cahaya diperlukan untuk berlangsungnya penyatuan CO₂ dan air untuk membentuk karbohidrat. Semakin besar jumlah energi yang tersedia akan memperbesar jumlah hasil fotosintesis sampai dengan optimum (maksimum). Untuk menghasilkan berat kering yang maksimal, tanaman memerlukan intensitas cahaya penuh. Namun demikian intensitas cahaya yang sampai pada permukaan kanopi tanaman sangat bervariasi, hal ini merupakan salah satu sebab potensi produksi tanaman aktual belum diketahui.
Kebutuhan cahaya untuk pertumbuhan tanaman tomat di waktu muda (tingkat anakan) berkisar antara 50 – 85 % dari cahaya total. Untuk jenis-jenis semitoleran naungan untuk anakan diperlukan sampai umur 1-2  bulan atau sampai tanaman mencapai tinggi 1 – 2 meter. Sedangkan untuk jenis-jenis toleran lebih lama lagi yaitu 3 – 4 bulan.
Suhardi (1995) mengemukakan tanaman tomat yang ditaruh, pada tempat penuh memberikan pertumbuhan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat cahaya masuk sebahagian. Dibandingkan dengan lama penyinaran dan jenis cahaya, intensitas cahaya merupakan faktor yang paling berperan terhadap kecepatan berjalannya fotosintesis.  Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa sampai intensitas 10.000 lux, grafik kecepatan fotosintesis bergerak linear positif. Data penelitian tersebut adalah untuk tanaman dewasa, sedangkan untuk tanaman muda (tingkat semai-sapihan) belum diperoleh data. Pengurangan intensitas sinar sampai 60% berpengaruh positif nyata terhadap pertumbuhan awal tinggi dan jumlah daun, serta diameter batang tanaman tomat.


BAB III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan waktu   
Praktek ini dilaksanakan di green house Fakultas Pertanian, Universitas Cokroaminoto Palopo Jln. Sungai Rongkong pada bulan November 2011.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah benih tomat, tanah, pasir, pupuk bokashi, polybag ukuran 20 x 30 cm, kain kasa.
Alat yang dipakai adalah paku, martil, kayu, linggis, gembor, mistar, kain dan alat tulis menulis.
3.3. Metode Percobaan
Praktek ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 perlakuan yang diulang sebanyak 12 kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Dengan naungan sebagai berikut :
Po = tanpa naungan
P1 = 1 lapis naungan
P2 = 2 lapis naungan
P3 = 3 lapis naungan
3.4. Pelaksanaan Percobaan
Pelaksanaan percobaan ini meliputi pembuatan naungan, persiapan media tanam, penyemaian, penanaman, pemeliharaan dan pengamatan.
Pembuatan naungan dilakukan dengan cara menyiapkan kayu sepanjang 1 meter kemudian buat lubang dengan menggunakan linggis, setelah lubang selesai dibuat tancapkan kayu lalu buat para-para berbentuk segi empat kemudian berikan naungan kain kasa jangan lupa dipaku supaya kain kasa tidak jatuh. Kemudian persiapan media tanam dilakukan dengan cara mencampurkan tanah, pasir, pupuk bokashi dengan perbandingan 1:1:1. Pencampuran ini dilakukan dengan menggunakan tangan, setelah semua bahan sudah tercampur dengan merata, kemudian masukkan kedalam polybag, selanjutnya media tanam tersebut disiram air sampai jenuh dan biarkan selama satu minggu tujuannya agar supaya mikroorganisme yang merugikan bagi tanah dan tanaman tomat akan mati, dan juga untuk memperlancar sistem aerasi didalam tanah.
Penyemaian dilakukan dengan cara merendam terlebih dahulu benih tomat selama 15 menit dan pilih benih yang tenggelam kemudian letakkan diatas pot secara merata setelah itu tutup dengan tanah.
Penanaman dilakukan pada saat bibit tomat sudah tumbuh pada tempat penyemaian, umur bibit tomat yang akan dipindahkan pada media tanam berkisar antara 3 minggu.
Pemindahan bibit tomat dari tempat penyemaian ke tempat media tanam dilakukan dengan cara mencabut satu per satu bibit tomat dengan hati-hati, jaga agar akar pada bibit tomat tidak terputus, setelah itu buat lubang diatas media tanam dengan kedalaman 5-10 cm lalu masukkan bibit tomat tersebut, tutup lubang tanam dengan tanah kemudian lakukan penyiraman.
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman dan penyiangan, penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi ataupun sore hari dengan menggunakan gembor. Penyiangan dilakukan terhadap gulma yang tumbuh disekitar tanaman tomat, pengamatan dilakukan pada tiap 3 hari sekali untuk melihat pengaruh naungan terhadap pertumbuhan tanaman tomat.




3.5. Parameter Pengamatan
Komponen pertumbuhan yang diamati adalah :
1.    Tinggi tanaman (cm) tomat, diukur dari pangkal sampai titik tumbuh tiap 3 hari sekali.
2.    Jumlah daun (helai) tanaman tomat, dihitung jumlah daun yang terbentuk sempurna diamati tiap 3 hari sekali


















BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
A. Tabel Rata-rata tinggi tanaman tomat
Ulangan    Perlakuan
    Po    P1    P2    P3
U1    7,4    12,1    17,3    7,3
U2    8,1    12,4    27,8    8,0
U3    7,4    13,1    22,3    8,8
U4    8,2    15,5    23,1    6,3
U5    9,6    13,3    23,0    8,1
U6    8,9    15,0    26,4    7,8
U7    5,8    19,0    26,4    9,3
U8    7,4    17,0    18,1    10,7
U9    6,7    18,8    23,1    7,5
U10    8,2    13,1    22,3    9,8
U11    -    14,7    25,0    8,3
U12    -    21,8    23,4    7,7
Total    77,7    185,8    278,2    99,6
Rata-rata    7,8    14,9    23,0    8,4


Sumber : data primer diolah Januari 2012





B. Tabel rata-rata jumlah daun tanaman tomat
Ulangan    Perlakuan
    Po    P1    P2    P3
U1    7    10    11    6
U2    7    9    10    7
U3    7    11    10    8
U4    8    11    11    6
U5    8    11    10    8
U6    7    12    9    9
U7    7    13    9    7
U8    9    9    12    9
U9    7    11    10    8
U10    8    11    9    7
U11    -    12    8,0    8
U12    -    11    11    6
Total    75    131    120    89
Rata-rata    8    11    10    8


Sumber : data primer diolah Januari 2012
B. Pembahasan
Pemberian naungan pada tiap perlakuan tanaman tomat menunjukkan hasil yang berbeda, pada naungan yang menggunakan kain 1 lapis (P1) menunjukkan hasil yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman tomat, sedangkan pada naungan yang menggunakan kain 2 lapis (P2) juga sama menunjukkan hasil yang nyata, bila dibandingkan dengan pemberian naungan kain 3 lapis (P3) sangat sedikit menunjukkan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Hal ini mungkin didasari dengan pertumbuhan tanaman tomat yang menginginkan suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 23°C pada siang hari, sehingga dengan adanya perlakuan pemberian naungan 1 dan 2 lapis kain merupakan suhu yang tepat untuk perkembangan tanaman tomat.
Dilihat dari diagram rata-rata jumlah daun tanaman tomat, yang menunjukkan pengaruh perkembangan jumlah daun dibandingkan dengan Po (kontrol), yakni pada P1 (1 lapis kain) dan P2 (2 lapis kain) dimana pada P1 dan P2 memberikan pengaruh yang nampak terhadap pertumbuhan jumlah daun, sedangkan pada P3 tidak menunjukkan pengaruh apapun.
 
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.    Kesimpulan
1.    Hasil percobaan menunjukkan bahwa:
a.    Tanaman di dalam ruangan mengalami pertumbuhan lebih cepat dan mempunyai batang yang lebih tinggi, daunnya berukuran kecil, tipis, berwarna pucat, batang melengkung dan tidak kokoh.
b.    Tanaman di luar ruangan pertumbuhannya lebih lambat, daunnya lebih lebar dan tebal, berwarna hijau, batang tegak dan kokoh.
c.    Cahaya merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan.
5.2. Saran
a. Dalam praktik ini sebaiknya didampingi dosen yang bersangkutan, sehingga mahasiswa dapat bekerja lebih serius lagi.
b. Sebaiknya percobaan dilakukan dalam waktu yang lebih lama agar terlihat lebih jelas dan lebih detail dalam menyimpulkan perbedaan antara tumbuhan yang cukup cahaya dan kurang cahaya matahari. 
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Botani dan Morfologi Tanaman Tomat. Universitas Sumatera Utara.
Anonim, 2011. Morfologi dan Klasifikasi Tanaman Tomat. Diakses di http://mukegile08.wordpress.com/category/sistematika-dan-morfologi-tanamantomat/
Anonim, 2001. Pengaruh Cahaya Terhadap Tanaman Tomat. IPB. Bogor.
Sihotang B., 2010. Budidaya Tanaman Tomat. Diakses di http://www.ideelok.com/budidaya-tanaman/tomat/page-1&2.

Laporan Pengaruh Media Tanam Terhadap Tanaman Cabe

Laporan Biologi Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Cabe (Capsicum annum)
 
 
 
 

Pembimbing : -mariani tanjung s.pd

Disusun oleh:
ILHAM ISMAIL
kls x tkr c

SMK BARAMULI PINRANG
2010 – 2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meningkatnya harga kebutahan cabe dikalangan masyarakat tidak lepas dari menurunan produksi cabe itu sendiri. Hal ini dapat dikarenakan mengenai cara pengolahan tanaman cabe karena semakin menipisnya lahan pertanian.
Namun seringkali kita melihat abu ataupun sekam paditerbuang sia-sia. Dengan menggunakan media tanam abu sisa pembakaran tanaman padi yang sudah dipanen maupun sekam padi (kulit padi yang telah diambil berasnya) dapat mengatasi permasalahan lahan pertanian yang semakin berkurang. Akan tetapi perlu dilakukannya penelitian pengaruh serta kandungan yang terdapat pada abu dan sekam padi tersebut untuk lebih mengetahui pengaruhnya terhadap tanaman cabe.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan cabe?
2. Apakah perbedaan kecepatan tumbuh biji cabe yang menggunakan media tanam dengan tanah kebun?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan cabe.
2. Mengetahui perbedaan kecepatan tumbuh biji cabe yang menggunakan media tanam dengan tanah kebun.
D. Manfaat
 Bagi petani : Dapat memanfaatkan media tanam lain untuk menggantikan tanah
 Bagi peneliti : Dapat mengetahui unsure-unsur dalam abu dan sekam terhadap pertumbuhan cabe
 Bagi siswa : Sebagai bahan belajar tentang pengaruh pertumbuhan terhadap media tanam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hari : Senin
Tanggal : 26 Juli 2010
Jam : 15.30 wib
A. Sekam Padi Sebagai Sumber Energi Alternatif
Limbah sering diartikan sebagai bahan buangan/bahan sisa dari proses pengolahan hasil pertanian. Proses penghancuran limbah secara alami berlangsung lambat, sehingga limbah tidak saja mengganggu lingkungan sekitarnya tetapi juga mengganggu kesehatan manusia. Pada setiap penggilingan padi akan selalu kita lihat tumpukan bahkan gunungan sekam yang semakin lama semakin tinggi. Saat ini pemanfaatan sekam padi tersebut masih sangat sedikit, sehingga sekam tetap menjadi bahan limbah yang mengganggu lingkungan.
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan ternak dan energi atau bahan bakar.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot gabah. Penggunaan energi sekam bertujuan untuk menekan biaya pengeluaran untuk bahan bakar bagi rumah tangga petani. Penggunaan Bahan Bakar Minyak yang harganya terus meningkat akan berpengaruh terhadap biaya rumah tangga yang harus dikeluarkan setiap harinya.
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30%, dedak antara 8- 12% dan beras giling antara 50-63,5% data bobot awal gabah. Sekam dengan persentase yang tinggi tersebut dapat menimbulkan problem lingkungan.
Ditinjau data komposisi kimiawi, sekam mengandung beberapa unsur kimia penting seperti dapat dilihat di bawah.
Komposisi kimia sekam padi menurut Suharno (1979) :
• Kadar air : 9,02%
• Protein kasar : 3,03%
• Lemak : 1,18%
• Serat kasar : 35,68%
• Abu : 17,17%
• Karbohidrat dasar : 33,71
Komposisi kimia sekam padi menurut DTC – IPB :
• Karbon (zat arang) : 1,33%
• Hidrogen : 1,54%
• Oksigen : 33,64%
• Silika : 16,98%
Dengan komposisi kandungan kimia seperti di atas, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya:
• sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia,
• sebagai bahan baku pada industri bahan bangunan, terutama kandungan silika (SiO2) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan campuran pada industri bata merah, (c) sebagai sumber energi panas pada berbagai keperluan manusia, kadar selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.
Sekam memiliki kerapatan jenis (bulk densil)1 125 kg/m3, dengan nilai kalori 1 kg sekam sebesar 3300 k. kalori. Menurut Houston (1972) sekam memiliki bulk density 0,100 g/ ml, nilai kalori antara 3300 -3600 k. kalori/kg sekam dengan konduktivitas panas 0,271 BTU.
Untuk lebih memudahkan diversifikasi penggunaan sekam, maka sekam perlu dipadatkan menjadi bentuk yang lebih sederhana, praktis dan tidak voluminous. Bentuk tersebut adalah arang sekam maupun briket arang sekam. Arang sekam dapat dengan mudah untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang tidak berasap dengan nilai kalori yang cukup tinggi. Briket arang sekam mempunyai manfaat yang lebih luas lagi yaitu di samping sebagai bahan bakar ramah lingkungan, sebagai media tumbuh tanaman hortikultura khususnya tanaman bunga.
B. Manfaat Abu Sekam
Abu sekam memiliki fungsi mengikat logam berat. Selain itu sekam berfungsi untuk menggemburkan tanah sehingga bisa mempermudah akar tanaman menyerap unsur hara di dalamnya. sehingga masih tetap terlu campuran media lain dalam media tanaman tersebut. bagus di campur dengan kompos.
sekam ada dua jenis yang dipakai untuk tanaman hias, pertama yang hangus 50% untuk media tanam atau dicampur, tapi untuk semai bibit, adenium missalnya kurang baik, kedua yang hangus 100% ini baik untk media atau campuran dan juga baik untuk semai, lebih steril, soal kelembaban saat membuat tidak perlu diperhatikan, tapi saat aplikasinya ketanaman asal jangan becek aja. semua tanaman bisa tumbuh baik dg sekam bakar, keuntungan pakai media tanama sekam bakar adalah steril, poros, banyak unsur hara, ringan untuk mobilisasi, tapi harganya terbilang mahal, karena proses pembuatanya memakan waktu dan bahan bakar yang banyak.
Juga, bahan organik dan merupakan kompos bagi tanah. yang namanya bahan organik itu berfungsi memperbaiki sifat tanah dan membantu mengikat unsur nitrogen, fospor, dan kalium (NPK) dalam tanah agar tidak lari kemana2 karena kalo unsut2 tsb lari, tanaman akan kekurangan. tanpa tanahpun dia akan berfungsi menahan unsur2 tadi, makanya tanaman bisa hidup jika ditanam di sekam atau abu sekam.
tapi ingat, kandungan unsur hara sekam itu tak sebanyak yang ada di pupuk buatan, maka penggunaan yang terbaik adalah dengan mencampur antara kompos (misalnya sekam) dan pupuk buatan, dengan intensitas sesuai kebutuhan tanah.
Tahukah kalian:Ternyata abu sekam padi ini sangat kaya akan silica (Si) yang dalam oksidanya dikenal dengan silica dioxide. Sebenarnya penggunaan silica dalam dunia konstruksi khususnya teknologi beton sudah mulai dipakai sebagai bahan tambah. Hebatnya silica yang dari abu sekam padi ini tidak kalah dengan silica fume yang harganya cukup tinggi. Namun sayangnya, pertumbuhan tanaman padi dewasa ini telah berganti dengan pertumbuhan beton dan bata. Sehingga prospek usaha untuk pengembangan silica dari abu sekam padi akan semakin suram.
Dari penelitian yang dilakukan secara intensif sejak tahun 1997 hingga 2005, didapat kesimpulan akhir bahwa abu sekam padi ini sangat potensial digunakan dalam bidang geoteknik terutama untuk perbaikan tanah. Dengan sedikit memberikan sentuhan iptek pada proses pembakaran, kandungan silica yang dihasilkan dapat mencapai diatas 90%. Sunggung nilai yang fantastis bukan. Dari catatan, 1995-2001, produksi sekam padi di Indonesia adalah bisa mencapai 4 juta ton per tahunnya. Berarti abu sekam yang dihasilkan 400 ribu ton per tahun. Inikan bisa menjadi nilai bagi para petani padi, jika ia tahu akan manfaatnya.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan
A. Faktor Luar
1. Air dan Mineral Þ berpengaruh pada pertumbuhan tajuk 2 akar. Diferensiasi salah satu unsur hara atau lebih akan menghambat atau menyebabkan pertumbuhan tak normal.
2. Kelembaban.
3. Suhu Þ di antaranya mempengaruhi kerja enzim. Suhu ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan yang paling baik adalah suhu optimum, yang berbeda untuk tiap jenis tumbuhan.
4. Cahaya Þ mempengaruhi fotosintesis. Secara umum merupakan faktor penghambat.
Etiolasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat di tempat yang gelap
Fotoperiodisme adalah respon tumbuhan terhadap intensitas cahaya dan panjang penyinaran.
B. Faktor Dalam
1. Faktor hereditas.
2. Hormon.
a. Auksin
adalah senyawa asam indol asetat (IAA) yang dihasilkan di ujung meristem apikal (ujung akar dan batang). F.W. Went (1928) pertama kali menemukan auksin pada ujung koleoptil kecambah gandum Avena sativa.
  • membantu perkecambahan
  • dominasi apikal
b. Giberelin
Senyawa ini dihasilkan oleh jamur Giberella fujikuroi atau Fusarium moniliformae, ditemukan oleh F. Kurusawa.
Fungsi giberelin :
  • pemanjangan tumbuhan
  • berperan dalam partenokarpi
c. Sitokinin
Pertama kali ditemukan pada tembakau. Hormon ini merangsang pembelahan sel.
d. Gas etilen
Banyak ditemukan pada buah yang sudah tua
e. Asam absiat
f. Florigen
g. Kalin
Hormon pertumbuhan organ, terdiri dari :
  • Rhizokalin
  • Kaulokali
  • Filokalin
  • Antokalin
h. Asam traumalin atau kambium luka
Merangsang pembelahan sel di daerah luka sebagai mekanisme untuk menutupi luka

BAB III METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Waktu : 25 Juli 2010
Tempat : SMAN 1 Jetis
B. Objek
Tanaman cabe
C. Alat dan Bahan
1. Bekas wadah air mineral gelasan sebanyak pot 9 gelas
2. Tanah kebun, abu, dan sekam
3. Biji cabe 27 buah
4. Mistar / alat tulis
5. Takaran media tanam
B. Prosedur Pelaksanaan
1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Mengisi 9 wadah air mineral dengan media tanam
Pot A = 3 wadah air mineral diisi sekam
Pot B = 3 wadah air mineral diisi abu
Pot C = 3 wadah air mineral diisi tanah kebun
3. Menanam biji cabe pada pot masing – masing 3 biji
4. Mengamati dengan mengukurnya selama 7 hari
Gambar Perlakuan
Pot A
A1 A2 A3
Pot B
B1 B2 B3
Pot C
C1 C2 C3
Keterangan :
Deret pot A (A1, A2, A3) = abu
Deret pot B (B1, B2, B3) = sekam
Deret pot C (C1, C2, C3) = tanah
E. Variabel
1. Bebas - Banyak sedikitnya media tanam pada penanaman biji cabe
2. Terikat - Pertumbuhan batang dan daun yang indicator tinggi batang, jumlah daun dan warna daun
3. Kontrol - Biji cabe dengan menggunakan tanah kebun
F. Rancangan Penelitian
1. Kelompok A - Pot A1, A2, A3 menggunakan media tanam sekam ½ gelas mineral
2. Kelompok B - Pot B1, B2, B3 menggunakan media tanam abu ½ gelas mineral
3. Kelompom C - pot C1, C2, C3 menggunakan media tanam kebun ½ gelas mineral
G. Jadwal penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, kami melakukannya setiap tiga hari sekali yaitu pada hari,
1. Jum’at 30 Juli 2010
2. Senin 2 Agustus 2010
3. Kamis 5 Agustus 2010
Pada setiap penelitian kami mencatat hasil dari pertumbuah tanaman cabe sehabis KBM selesai.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tabel Pengamatan
Setelah melakukan sebuah percobaan, hasil dari pengamatan tinggi batang, jumlah daun serta warna daun pada tanaman cabe kita masuk kedalam sebuah table hasil pengamatan. Dan berikut hasil dari pengamatan tersebut.
Pot Biji Indikator
Tinggi Batang Jumlah Daun Warna Daun
Hari Hari Hari
1 3 7 Rata 1 3 7 Rata 1 3 7
A1 1 2 3,1 3,1 2,825 2 2 2 2 hijau hijau hijau
2 0,5 1,1 1,5 0,95 - - - - - - -
A2 1 3 3,8 4,3 2,35 2 2 2 2 hijau hijau Hijau
2 - 3,7 3,6 3,35 - 2 2 1 hijau hijau Hijau
A3 1 2 3,1 3 2,775 2 2 2 2 hijau hijau Hijau
2 - 1,4 1,5 1,45 - - - - - - -
B1 1 1 layu kering mati 2 - - 1 hijau layu mati
2 - 1 mati 1 - - - - - - -
B2 1 1 mati mati mati 2 - - 1 hijau layu mati
2 - 0,7 mati 0,7 - - - - - - -
B3 1 2 mati mati mati 2 2 - 2 hijau layu mati
2 0,5 mati mati - - - - - - - -
C1 1 0,5 2 5 1,25 - - 2 - - - Hijau
2 - 1,6 3,1 0,8 - - - - - - -
C2 1 3 5,4 3,3 4,2 2 2 2 2 hijau hijau hijau
2 0,5 4 3,1 2,25 - 2 2 1 - hijau hijau
C3 1 1,5 5,1 5,5 3,3 2 2 2 2 hijau hijau hijau
2 1,5 3,1 3,5 2,3 - 2 2 1 - hijau hijau
B. Grafik
Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan pertumbuhan tanaman cabe di setiap media tanam yang digunakan, maka kami sajikan grafik pertumbuhan sebagai berikut.
Gambar 1. Grafik tentang pertumbuahan tinggi tanaman cabe
Gambar 1.2. Gambar tentang jumlah daun pada tanaman cabe
  • Keterangan
1) Rata – rata tinggi batang pada,
Pot A
A 1 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 1,8875
A 2 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 2,85
A 3 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 2,1125
Rata – rata keseluruhan pada potA (A 1, A 2,A 3) adalah 2,283
Pot B
B 1 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 0,5
B 2 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 0,35
B 3 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang -
Rata – rata keseluruhan pada pot B (B 1, B 2, B 3) adalah 0,283
Pot C
C 1 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 1,025
C 2 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 3,225
C 3 : rata – rata pertumbuhan tinggi batang 2,8
Rata – rata keseluruhan pada pot C (C 1, C 2, C 3) adalah 2,35
2) Rata – rata jumlah daun pada,
Pot A
A 1 : rata – rata jumlah daun 1
A 2 : rata – rata jumlah daun 1,5
A 3 : rata – rata jumlah daun 1
Rata – rata keseluruhan pada potA (A 1, A 2,A 3) adalah 1,167
Pot B
B 1 : rata – rata jumlah daun 0,5
B 2 : rata – rata jumlah daun 0,5
B 3 : rata – rata jumlah daun 1
Rata – rata keseluruhan pada pot B (B 1, B 2, B 3) adalah 0,67
Pot C
C 1 : rata – rata jumlah daun -
C 2 : rata – rata jumlah daun 1,5
C 3 : rata – rata jumlah daun 1,5
Rata – rata keseluruhan pada pot C (C 1, C 2, C 3) adalah 1
C. Pembahasan
 Abu
Menurut pendapat Sullivan, Ketika kayu terbakar, nitrogen dan sulfur hilang sebagai gas, dan kalsium, kalium, magnesium dan trace elemen senyawa tetap. The karbonat dan oksida yang tersisa setelah pembakaran kayu adalah agen pengapuran berharga, menaikkan pH, sehingga membantu untuk menetralkan tanah asam. Jadi, abu sangat baik untuk media tanam karena mengandung , berisi sebagian besar dari 13 nutrisi penting tanah harus pasokan untuk pertumbuhan tanaman.
Namun factor di lapangan ketika kami melakukan penelitian tanaman cabe tidak dapat tumbuh subur dengan media tanam abu. Diduga kami terlalu sering melakukan penyiraman terhadapat tanaman tersebut karena ketika abu menjadi basah, itu kehilangan sifat-sifatnya menghambat. penggunaan terus-menerus abu dengan cara ini dapat meningkatkan pH tanah terlalu banyak, atau mengakumulasi kadar garam yang tinggi berbahaya bagi tanaman.
 Sekam
Berdasarkan pendapat dari Suharno (1979) komposisi kimia sekam padi adalah Kadar air : 9,02%, Protein kasar : 3,03%, Lemak : 1,18%, Serat kasar : 35,68%, Abu : 17,17%, Karbohidrat dasar : 33,71. Dengan komposisi kandungan kimia seperti di atas, sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antara sebagai media tanam. Dan itu terbukti apa yang telah kami lakukan dilapangan. Tanaman cabe dengan media tanam sekam dapat tumbuh dengan subur dengan penyiraman yang kami lakukan.

BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian diatas maka kesimulan yang dapat ditarik, pengaruh media tanam abu bersifat penghambat pertumbuhan tanaman cabe yang mengakhibatkan tidak dapat tumbuh subur bahkan mati, hal ini dikarenakan media tanam abu tidak perlu terlalu sering disirami, karena apabila terlalu sering disirami maka abu akan kehilangan beberapa kandungan penting yang berguna untuk pertumbuhan.
Sementara itu media tanam yang paling bagus digunakan untuk menjadi solusi semakin krisisnya lahan pertanian adalah menggunakan media tanam sekam. Karena sekam padi memiliki unsure – unsure kandungan yang sangat bagus untuk media tanam salah satunya tanaman cabe.Hal ini dibuktikan dengan perbandingan tinggi batang antara sekam padi, abu, dan tanah secara berturut – turut menunjukan sebagai berikut,
Pot A :2,283
Pot B :0,283
Pot C :2,35
Sementara untuk perbandingan jumlah daun pun demikian,
Pot A : 1,167
Pot B : 0,67
Pot C : 1
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa sekam padi jauh lebih bagu untuk digunakan sebagai media tanam dari pada abu, karena sekam padi memiliki tinggkat kesuburan pada tanah kebun.
LAMPIRAN
A. Lampiran 1
Hari 1 (Jum’at 30 Juli 2010)
A
B C
Hari 3 (Senin 2 Agustus 2010)
A B C
Hari 3 (Kamis 5 Agustus 2010)
A B C
B. Lampiran II
  • Dalam melakukan penelitian ini, yang pertama kami lakukan pada tanggal 25 Juli 2010 adalah melakukan perkecambahan terlebih dahulu
  • Selanjutnya setelah tanaman cabe dapat berkecambah pada tanggal 30 Juli 2010, kami memindahnya kedalam pot yang telah diisi dengan media tanam yang berbeda (abu, sekam, tanah). Dan memulai melakukan perlakukan pada tanaman cabe tersebut.
  • Pada tanggal 31 Juli 2010 pada pukul 13.30 (sehabis KBM) kami melakukan penyiraman di setiap masing tanaman.
  • Senin, tanggal 2 Agustus kami mencatat hasil dari pertumbuhan tanaman cabe. Namun pada penelitian yang kedua ini, tanaman cabe pada pot dengan media tanam abu tidak dapat berkembang dan tampak layu di bandingkan dengan media tanam sekam.
  • Pada tanggal 5 Agustus 2010 kami melakukan penelitian yang ketinga. Dan pada penelitian tersebut kami mendapati bahwa tanaman cabe dengan media tanam abu sudah mati. Sementara media tanam sekam memiliki tingkat kesuburan hampir mendekati dengan tanah kebun.
Daftar Pustaka :