Terima Kasih Atas Kunjungan Anda,lain kali datang lagi yah !!!

Minggu, 06 Januari 2013

LAPORAN Penelitian  Tanaman Mengkudu

 

LAPORAN PENELITIAN
(Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester)
 TUMBUHAN MENGKUDU (Morinda citrifoliaL)
DI DUSUN 
guru pembimbing;
mariani tanjung s. Pd
Oleh:
ilham ismail
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Etnobotani merupakan cabang ilmu yang mendalami hubungan manusia dengan alam nabati (Rifai dan Waluya 1992). Indonesia mempunyai kekayaan alam yang melimpah seperti berbagai jenis tanaman dan berbagai sumber daya alam yang lain, termasuk suku bangsa dengan budaya yang beragam pula. Setiap kelompok masyarakat mempunyai pengetahuan sendiri didalam menggunakan tetumbuhan yang ada disekitarnya. Pemanfaatan tumbuhan yang ada disekitarnya bukan saja untuk keperluan ekonomi tetapi juga untuk keperluan nilai-nilai budaya lainnya.
Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat. Obat tradisional (obat herbal) banyak digunakan masyarakat menengah ke bawah terutama dalam upaya pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) serta peningkatan kesehatan (promotif) (Prananingrum, 2007).
Salah satu tanaman yang dapat dipelajari pada Etnobotani adalah tumbuhan Mengkudu yang merupakan tumbuhan liar yang banyak tumbuh di tepi pantai di seluruh nusantara, kebanyakan berupa perdu yang mempunyai batang, daun, bunga, buah, biji, dan akar. Di dalam kehidupan masyarakat tumbuhan Mengkudu dimanfaatkan sebagai masakan, minuman, dan merupakan bahan ramuan obat-obatan tradisional untuk perawatan kesehatan dan kecantikan (Rukmana, 2002).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut diatas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
  1. Apakah manfaat Tanaman Mengkudu bagi masyarakat Dusun Ngadipuro?
  2. Bagian organ Tanaman Mengkudu yang mana yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Dusun Ngadipuro?
  3. Bagaimana cara memanfaatkan bagian organ Tanaman Mengkudu untuk setiap keperluan oleh masyarakat di Dusun Ngadipuro?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
  1. Mengetahui pengetahuan masyarakat di Dusun Ngadipuro tentang pemanfaatan Tanaman Mengkudu yang terdapat di Dusun Ngadipuro.
  2. Mengetahui bagian organ Tanaman Mengkudu yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat di Dusun Ngadipuro.
  3. Menjelaskan cara pemanfaatan bagian organ Tanaman Mengkudu untuk setiap keperluan.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat :
  1. Memberikan informasi tentang pengetahuan masyarakat di Dusun Ngadipuro dalam pemanfaatanTanaman Mengkudu untuk berbagai keperluan.
  2. Memberikan informasi bagian Tanaman Mengkudu yang dimanfaatkan, dan cara pemanfaatannya untuk berbagai keperluan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi
Nama daerahnya antara lain: mengkudu, bentis, kemudu, kudu, cangkudu, kondhuk, pace. Menurut Tjitrosoepomo (1981), klasifikasi dari Mengkudu (Morinda citrifolia L.) adalah sebagai berikut.
Filum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dycotyledoneae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia L.
2.2 Deskripsi Tanaman Mengkudu
Mengkudu termasuk tumbuhan keluarga kopi-kopian (Rubiaceae), yang pada mulanya berasal dari wilayah daratan Asia Tenggara dan kemudian menyebar sampai ke Cina, India, Filipina, Hawaii, Tahiti, Afrika, Austra­lia, Karibia, Haiti, Fiji, Florida dan Kuba.
Tanaman mengkudu merupakan tanaman tahunan (perennial) yang berbentuk perdu, dengan ketinggian antara 3-8 m.Batang tanaman keras (berkayu) tumbuh mengarah keatas dan memiliki banyak percabangan. Cabang tumbuh mendatar dengan arah keluar kanopi tanaman. Daun tanaman termasuk daun tunggal, terdiri atas satu helai daun pada setiap satu tangkai daun (petiolus). Daun berbentuk lonjong, dengan ukuran panjang antara 10- 40cm dan lebar 15- 17cm, tergantung tingkat kesuburan tanaman. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau agak pucat. Tangkai daun pendek dan melekat pada batang atau cabang secara berseling-seling atau berpasangan. Daun tampak rimbun, semakin subur pertumbuhan tanaman semakin besar ukuran daunnya.
Tanaman mengkudu berbunga sempurna (hermaprodit) dan menghasilkan buah semu majemuk. Buah mengkudu mempunyai bentuk yang bervariasi (agak bulat, agak lonjong, atau panjang), dengan permukaan yang tidak rata. Buah stadium muda berwarna kehijau-hijauan dan berubah menjadi hijau keputihputihan ketika masuk stadium tua (matang). Biji pada tanaman mengkudu keras, bentuk segi tiga dan berwarna coklat kemerah-merahan. Tanaman mengkudu berakar tunggang dan berwarna coklat muda.
Kandungan kimia pada tanaman mengkudu adalah daun dan buah mengkudu mengandung alkolida, saponin, flafonoida dan antrakonin, disamping itu daunnya juga mengandung polifenal. Tanaman mengkudu berkhasiat sebagai obat batuk, radang usus, obat amandel, dan obat kencing manis (Widiarti, 1999).
2.3 Etnobotani Tanaman Mengkudu
Dalam sejarah perkembangan manusia, tumbuhan memerankan peran yang sangat penting dalam perkembangan budaya. Suku-suku bangsa atau kelompokkelompok masyarakat telah mengembangkan sendiri tradisi dalam memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya termasuk Tanaman Mengkudu untuk berbagai keperluan hidupnya (Supriadi, 2001).
Pada berbagai suku di indonesia sejak dahulu dijumpai pada kebiasaan membuat ramuan obat-obat tradisional dari akar, daun, bunga, buah Tanaman Mengkudu yang dilakukan oleh hampir semua orang dari berbagai lapisan masyarakat. Hal ini diakibatkan Tanaman Mengkudu ini dianggap dapat enyembuhkan berbagai penyakit seperti yang dikemukakan Wijayakusuma (2002) Adalah Mengkudu (morrinda citrifolia Linn), berfungsi sebagai obat batuk dan obat radang usus, daunnya berkhasiat sebagai obat masuk angin, obat amandel, obat mulas, dan obat kencing manis.
Hampir semua bagian tanaman Mengkudu dapat digunakan untuk obat akan tetapi yang paling banyak khasiatnya sebagai obat berasal dari daun dan buahnya. Manfaat lain dari Tanaman Mengkudu adalah untuk perawatan kecantikan utamanya untuk kulit (Rukmana, 2002).
Menurut pengalaman empirik dalam masyarakat menunjukkan bahwa zat dalam tanaman mengkudu dipercaya berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Menurut Wijayakusuma dalam (Rukmana, 2002) mengkudu berkhasiat obat terhadap paling sedikit 34 macam penyakit, antara lain penyakit asma, alergi, anti kanker, bronchitis, dan lain-lain.
2.4 Tumbuhan Obat dalam Pengobatan Islam
Allah SWT menurunkan penyakit kepada manusia lengkap dengan obatnya, hikmah dari diturunkannya penyakit adalah untuk menguji kesabaran dan keimanan manusia, sedangkan hikmah diturunkannya obat adalah agar manusia mau berusaha mencari dan mengolah sesuatu yang bermanfaat yang ada di alam ini, karena memang semua yang telah diciptakan Allah SWT merupakan nikmat bagi manusia, bukan hal yang siasia.
Rasyidi (1999) menjelaskan bahwasanya Allah SWT menjadikan kehidupan alam dengan berbagai keanekaragaman hayatinya sebagai nikmat bagi kehidupan manusia, di dalamnya terkandung manfaat yang sangat beragam, contohnya tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita yang dapat dipergunakan untuk pengobatan. Dari dulu hingga kini, pengobatan dengan tumbuhan (herbalmedicine) masih sering digunakan sebagai alternatif penyembuhan. Perintah Allah SWT kepada kita (manusia) untuk memanfaatkan tumbuhan tersurat dalam AlQur’an sebagai berikut:
                          
Artinya: kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Ayat di atas mengandung pengertian bahwa Allah SWT menumbuhkan beraneka macam tumbuhan yang mempunyai manfaat yang sangat besar bagi manusia, diantaranya sebagai obat, karena Allah SWT menciptakan bermacam penyakit lengkap dengan obatnya, diantaranya adalah tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita.
Sebagai agama rahmatan lil ‘alamien, Islam mempunyai aturanaturan atau Hukumhukum syari’at yang melindungi agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan keturunan. Jiwa, jasmani dan akal sangat erat hubungannya dengan kesehatan, oleh karena itu ajaran Islam sangat sarat dengan tuntunan memelihara kesehatan jasmani dan rohani (Rasyidi, 1999).
Qaradhawi (1998) menambahkan, dalam Islam hak tubuh ini tidak boleh dilupakan dan diabaikan demi kepentingan yang lain sebagaimana sunnah menetapkan bahwa tubuh memiliki nilai yang sangat berharga dan ia mempunyai hak atas pemiliknya. Termasuk hak tubuh atas dirinya adalah hendaklah membersihkannya apabila kotor, mengistirahatkannya apabila lelah dan mengobatinya apabila sakit.
Menurut Syaikh Muhammad Ash-Shayim (2006), tumbuhan menjadi bahan obat yang sangat populer disamping bahan alam lainnya sepeti madu dan telur dalam kehidupan Rasulullah Muhammad SAW, beliau sering menggunakan tumbuhan untuk mempertahankan kesehatan tubuh. Terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai makanan pelindung (protectorfood) dan obat penyembuh yang sering dicontohkan dalam pengobatan ala Rasulullah Muhammad SAW (thibbun nabawi) diantaranya adalah: minyak zaitun, bawang putih, bawang merah, buah delima, buah labu dan gandum.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis pwenilitian ini adalah deskriptif-eksploratif. Adapun metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan teknik wawancara terstruktur (structured intervew) dan wawancara semi-terstruktur (semi-struktured intervew).
3.2 Deskripsi Area
Dusun Ngadipuro merupakan dusun yang terletak paling ujung selatan dari kabupaten Trenggalek. Trenggalek adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Pusat pemerintahan berada di Trenggalek kota. Kabupaten ini menempati wilayah seluas 1.205,22 km² yang dihuni oleh ±700.000 jiwa. Letaknya di pesisir pantai selatan dan mempunyai batas wilayah sebelah utara dengan Kabupaten Ponorogo, Sebelah timur dengan Kabupaten Tulungagung, Sebelah selatan dengan pantai selatan atau Dusun Ngadipuro, dan Sebelah barat dengan Kabupaten Pacitan.
3.3 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini di lakukan pada tanggal 02 Mei 2011 sampai dengan 07 Mei 2011, di Dusun Ngadipuro Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur.
3.4 Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah Tanaman Mengkudu yang terdapat di Dusun Ngadipuro dan masyarakat (responden/key informant) 3 responden: masyarakat yang tau tentang pengobatan tradisional 1 sampel dan masyarakat umum yang sering memanfaatkan Tanaman Mengkudu 1 sampel.
3.5 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: alat perekam (tape recorder) sdan buku catatan. Bahan yangdigunakan adalah Tanaman Mengkudu di Dusun Ngadipuro Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur.
3.6 Prosedur Penelitian
1. Tahap Observasi.
Pada tahap ini digali informasi dari masyarakat di daerah sampel yaitu Di Dusun Ngadipuro Desa Ceraken Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek, terhadap siapa saja orang yang banyak mengetahui tentang pemanfaatan Tanaman Mengkudu untuk Bahan pengobatan tradidional bagi masyarakat setempat yang akan di jadikan nara sumber dalam pengambilan data.
2. Tahap Pengambilan Data
Pengambilan Data dilakukan dengan teknik wawancara sehingga diperoleh informasi data lisan dari nara sumber. Untuk membantu dalam proses wawancara adalah alat perekam dan observasi tentang pemanfaatannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Manfaat Tanaman Mengkudu
Berdasarkan hasil wawancara kecil yang telah dilakukan terhadap 3 responden tentang manfaat dari tanamn Mengkudu tersebut diproleh hasil bahwa tanaman Mengkudu dimanfaatkan sebagai: Bahan masakan 5%, Obat tradisional 25% dan sebagai Tanaman Hias 75%.
Tabel Hasil Pengamatan Manfaat Tanaman Mengkudu:
Nama Lokal Nama Ilmiah Organ Yang Digunakan Manfaat
Mengkudu-Pace
Morinda citrifolia L
  • Daun muda
  • Buah
  • Masakan, Masuk Angin Dan Mulas
  • Obat Tekanan Darah Tinggi, Kanker, Gangguan Jantung, Stroke, Asm Urat, Ginjal, Cacingan, Sariawan, Sesak Nafas, Radang Usus, Amandel, Masalah Sex, Stress, Alergi, Sulit Tidur, Sakit Gigi Atau Gusi, Obat Kencing Manis, Nyeri Haid dan Obat Batuk
4.2 Cara Pemanfaatan Tumbuhan Suku Rubiaceae
Hasil wawancara tentang pemanfaatan Tanaman Mengkudu untuk keperluan masakan, jamu, dan obat cukup bervariasi. Cara pemanfaatannya Tanaman Mengkudu dibahas seperti berikut ini.
4.2.1 Masakan
Sayuran yang digunakan diantaranya daun muda mengkudu digunakan untuk bahan lalap matang, urap, pepes dan lain-lain. Buah muda mengkudu untuk rujak bebeg, daun dibuat sayur (botok).
4.2.2 Obat Tradisional
  1. Obat tekanan darah tinggi
Satu buah, mengkudu matang dan satu belimbing manis dibuat jus, kemudian diminum.
  1. Obat kanker
Ramuan anti kanker dapat dibuat dengan sebagai berikut: satu buah mengkudu masak dipotong-potong, ditambah 15 gr kunyit putih, ditambah 600 cc air, kemudian direbus hingga airnya tinggal tersisa separuhnya (300 cc), sari mengkudu ini diminum secara teratur.
  1. Gangguan jantung
Ramuan untuk mengobati penyakit jantung koroner dapat dibuat dengan cara sebagai berikut: 1-2 buah mengkudu dicuci bersih dan dipotong-potong, ditambah 10 butir angco yang sudah dibuang bijinya, diblenderdengan ditambah air secukupnya dan ditambah 10 gr bubuk umbi daun dewa (thienci) sambil diaduk-aduk hingga rata. Ini diminum secara teratur.
  1. Stroke
Cara pengobatan secara sederhana yaitu buah mengkudu dihancurkan dan dipisahkan dari biji-bijinya.
  1. Linu asam urat
Untuk mengobati linu asam urat digunakan air perasan buah mengkudu, kemudian diminum.
  1. Cacingan
Untuk mengobati penyakit Cacingan digunakan air perasan mengkudu, kemudian diminum.
  1. Sakit ginjal
Untuk mengobati penyakit ginjal digunakan air perasan mengkudu, diminum teratur.
  1. Obat sariawan
Dipakai buah mengkudu masak dipohon diambil airnya dicampur dengan air buah pisang.
Batu, sedikit adas, satu bawang merah, sepotong pulosari dan selanjutnya diembun dan dapat diminum untuk menyembuhkan sariawan yang menimbulkan bisul-bisul dileher.
  1. Obat Sesak Nafas
Digunakan ekstrak buah mengkudu.
  1. Obat radang usus
Dipakai ekstrak buah mengkudu, diminum secara rutin.
  1. Obat masuk angin
Dipakai daun muda mengkudu digunakan sebagai tapal diperut.
  1. Amandel
Dipakai 2 sendok sari makan sari makan mengkudu 1 sendok teh air perasan jeruk nipis, satu sendok teh air perasan kunyit dua sendok makan madu, 8 sendok makan air rebusan benalu teh. Semua bahan teh dicampur, kemudian diminum sekaligus.
  1. Obat mulas
  • Dipakai daun sembukan yang paling lebar digosok dengan minyak kelapa, kemudian dibuat panas, diikat pada perut dan dipinggang sisakit.
  • Daun sembukan dipakai sayuran unuk mengobati sakit mulas.
  1. Masalah sex
Dipakai ekstrak buah mengkudu, kemudian diminum secara teratur.
  1. Stres
Dipakai ekstrak buah mengkudu, kemudian diminum secara teratur.
  1. Alergi
Dipakai ekstrak buah mengkudu , kemudian diminum secara teratur.
  1. Sulit tidur
Dipakai ekstrak buah mengkudu, diminum secara teratur.
  1. Sakit gigi atau gusi
Digunakan ekstrak buah mengkudu, dikompreskan kebagian yang sakit.
  1. Obat kencing manis
Dipakai ekstrak mengkudu, diminum teratur setiap hari.
  1. Nyeri haid
Dipakai ekstrak buah mengkudu, diminum secara sekaligus.
  1. Obat Batuk
Dipakai 100gr buah segar mengkudu yang sudah masak
4.3 Organ Tumbuhan Rubiaceae Yang Dimanfaatkan
Bagian dari Tanaman Mengkudu yang digunakan sebagian besar adalah buah dan sebagian kecil yang digunakan adalah akar, kulit batang, daun, biji buah, sedangkan tangkai daun, tangkai bunga tidak ada yang menggunakannya. Untuk pembuatan obat sebagian besar menggunakan daun.
Bagian kulit batang, akar dan buah merupakan bagian yang paling jarang dipergunakan. Penggunaan kulit batang, akar (buah) tidak dari semua suku jenis anggota, melainkan dari jenis-jenis tertentu dan untuk keperluan tertentu juga misalnya, daun mengkdu untuk berbagai penyakit ringan.
Penggunaan daun dari tanaman mengkudu dalam pemanfaatannya seringkali yang digunakan adalah yang berumur setengah tua ( tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda). Dan untuk buah yang sering di gunakan yaitu buah yang sudah matang di atas pohonnya.
Sebagian responden yang mempunyai tanaman mengkudu ada yang menyatakan tidak dijual (untuk keperluan sehari-hari), dan ada juga untuk dijual (untuk keperluan sehari-hari).
Dalam penggunaan tanaman mengkudu ini bersifat ramuan (obat) dan juga penggunaannya secara campuran, misalnya obat stroke, dimana buah mengkudu dihancurkan dan dipisahkan dari bijinya kemudian dibuat minuman, obat linu, cacingan, peluruh empedu sakit ginjal, obat sesak nafas, radang usus dengan menggunakan air perasan buah mengkudu. Selain itu juga, obat masuk angin, digunakan daun mengkudu muda digunakan sebagian tapal diperut.
Obat amandel, masalah sex, stress, alergi, sulit tidur, sakit gigi/gusi, obat kencing manis, nyeri haid menggunakan air perasan buah mengkudu, diminum teratur. Obat luka ±5 gr kulit batang/ akar kering soka dicuci dan ditumbuk.
Menurut Rukmana (2002), pemanfaatan dari tumbuhan suku rubiaceae meliputi ekstrak mengkudu dapat membantu mengatasi berbagai penyakit misalnya: tekanan darah tinggi, kanker, gangguan jantung, amandel, stroke, diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2, lesu, masalah sex, kegemukan, anthiris, nteri,depresi, alergi, gangguan pencernaan, gangguan pernafasan, sulit tidur, lemah konsentrasi, gangguan ginjal, dan gangguan kesuburan (reproduksi).
Selain diminum, sari buah mengkudu juga dapat kompreskan pada bagian yang sakit untuk menyembuhkan koreng dan menghilangkan pegal linu atau rasa nyeri. Sari buah mengkudu juga dapat digunakan berkumur-kumur untuk meringankan sakit gigi atau gusi, diteteskan ditelinga, mata hidung, dubur, dan vagina untuk kepentingan masing-masing dalam 2-3 bulan, pemakaian minuman sari buah mengkudu dapat dihentikan selama 1 minggu.
Sedangkan menurut Prof. H.M. Hembing Wijaya kusuma, mengkudu berkhasiat obat terhadap paling sedikit 34 macam penyakit a.l: penyakit asma, alergi, anti kanker, ber-beri, bronkhitis, batuk rejan, batuk cacar air.
Menurut Syamsul Hidayat dan Hutapae (1991), menyatakan bahwa untuk obat batuk dipakai 100gr buah segar mengkudu yang sudah masak, dicuci, ditumbuk halus, ditambah ¼ gelas air matang, 1 sendok teh cuka dan 1 gr garam, diaduk sampai rata, diperas dan disaring, hasil saringan diminum sehari 3 kali sama banyak pagi dan sore. Untuk obat sariawan dipakai ±7 gr daun kaca piring dicuci ditmbuh sampai lumat, ditambah ¼ gelas air matang, diperas dan saring, hasil saringan untuk kumur-kumur.
Cara pemanfaatan tanaman mengkudu ditinjau dari ketersediaannya dapat digunakan secara langsung (secara segar) atau tidak langsung (diolah dahulu). Pemanfaatan tumbuhan suku rubiaceae yang digunakan secara langsung (secara segar), adalah daun muda menkudu digunakan sebagai tapal diperut daun mengkudu paling lebar digosok dengan minyak kelapa, kemudian dibuat panas.
Dari responden menyatakan ada 75% rumah-rumah menanam tanaman mengkudu sebagai tanaman hias dan sebanyak 25% menggunakan tanaman mengkudu sebagai obat tradisional. Dan 5% menggunakan tanaman mengkudu sebagai bahan masakan.
4.4 Cara Penanaman Tumbuhan Suku Rubiaceae
Menurut responden mengatakan bahwa tanaman mengkudu yang ditanam ada yang sebagai tanaman hiasan (75%), obat tradisional (25%) dan menggunakan tanaman mengkudu sebagai bahan masakan (5%).
Cara penanaman tumbuhan suku rubiaceae bermacam-macam bias secara generatif atau vegetatif (cangkok, stek, dan lan-lain). Secara sederhana yaitu vegetatif perbanyakan bibit dengan cara memilih biji dari pohon yang sudah masak kemudian dikeringkan dan disemaikan di bedengan atau polibag. Penaaman secara vegetatif yaitu menyambung (okulasi/sambungan pucuk), stek (cutting), cangkok (marcocetereng), rundukan (layering). Lahan dicangkul sedalam ±30cm dibuat lubang 50cm, kemudian bibit vegetatif atau generatif tadi ditanam dilubang yang tersedia lalu ditutupi dengan tanah campuran. Penanaman sebaiknya pada awal musim penghujan agar pengairannya tercukupi. Sebagian koresponden ada yang menatakan ditanam dipot atau dipolibag dahulu dan dibedengan untuk pembibitan, kemudian baru dipindah dihalaman atau pekarangan. Juga ada langsung ditanam dilahan. Asal bibit dari tumbuhan suku rubiaceae berasal dari bibit yang dijual, tetangga, dan kerabat dekat.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari Hasil Pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan berikut ini:
  1. Tanaman mengkudu yang terdapat di Dusun Ngadipuro Desa Ceraken Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur dimanfaatkan sebagai masakan, obat tradisional dan sebagai tumbuhan hias. Pemanfaatan kebanyakan yaitu untuk mengobati tekanan darah tinggi, kaker, gangguan jantung, stroke, linu atau asam urat.
  2. Bagian dari tumbuhan suku rubiaceae yang digunakan umumnya adalah daun, buah, dan sebagian kecil digunakan akar, biji bunga.
  3. Cara pemanfaatan obat atau jamu berupa ramuan sebagai bahan tunggal atau campuran dan yang lebih banyak sebagai ramuan campuran yang digunakan sebagai bahan segar dan dimasak.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Asy-Shayim, Muhammad. 2006. 30 Tumbuhan Pilihan: Sehat Alami SecaraIslami. Terjemahan Abu Wafi, Syukur. Solo: Pustaka Arafah.
Prananingrum. 2007. Etnobotani Tumbuhan Obat Tradisional di Kabupaten Malang Bagian Timur. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: JurusanBiologi, Fakultas Sains dan Teknologi UINMalang.
Qardhawi. 1998. Islam Agama Ramah Lingkungan. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Rasyidi. 1999. Rahmatan Lil ‘Alamin. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Rifai, I. M.A.dan waluyo (ulfa). E.B. 1992. Etnobotani dan pengembangan Tetumbuhan Pewarna Indonesia: Ulasan suatu Pengamatan di Madura. Makalah Seminar Nasional Indonesia Etnobotani. Bogor: 19-20 Februari1992.
Rukmana, 2002. Mengkudu Budaya Dan Prospek Agribisnis, yokyakarta Kanisius
Supriadi, dkk. 2001. Tumbuhan Obat Indonesia: Penggunaan dan Khasiatnya.Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Syamsul Hidayat dan Hutapae 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia DEPKES RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi tumbuhan (Spermatophta). UGM Press.
Widiarti Tunas, B.A. 1999. mengenal tanaman dan khasiatnya surabaya: PT. Arkola.
Wijayakusuma, H. 2002. Tanaman Berkhasiat Obat Indonesia. Edisi revisi.Jakarta: Pustaka

pengaruh naungan terhadapa tanaman tomat




KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga laporan yang berkaitan dengan Ekologi Tanaman dapat kami selesaikan tepat pada waktunya meski dalam bentuk yang jauh dari kesempurnaan.
Kami menyadari bahwa, penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan.  Oleh karena itu, saran dan kritik yang bisa membangun sangat kami harapkan dalam penyempurnaan penulisan laporan dimasa yang akan datang.
Selain itu pula, penulisan laporan ini tidak akan mungkin selesai tepat pada waktunya apabila penulis tidak mendapat dukungan dari semua pihak.
Kami berharap laporan ini dapat diterima oleh semua pihak, utamanya oleh dosen bidang studi Ekologi Tanaman sebagai salah satu bukti penyelesaian tugas yang diberikan kepada kami.
Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas laporan ini dan semoga dapat bermanfaat dalam proses pembelajaran.amin.

Pinrang
 ,  Januari 2012

    Penulis



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL    
HALAMAN PENGESAHAN    
KATA PENGANTAR    
DAFTAR ISI    
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang    
1.2.    Perumusan masalah
1.3.    Hipotesis    
1.4.    Tujuan dan Kegunaan    
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Botani tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.)    
2.2. Respon tanaman terhadap cahaya matahari    
BAB III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat Dan Waktu    
3.2. Metode Percobaan    
3.3. Pelaksanaan Percobaan    
3.4. Parameter Pengamatan    
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil    
4.2. Pembahasan    
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan    
5.2. Saran    
DAFTAR PUSATAKA    
LAMPIRAN    
DOKUMENTASI    

BAB I. PENDAHULUAN
1.1.     Latar Belakang
Tanaman tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani, selain itu tomat merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak digemari orang karena rasanya enak, segar dan sedikit asam.
Sentral produksi tanaman tomat di Indonesia adalah pulau Jawa, akan tetapi juga dikembangkan di luar pulau Jawa hampir di seluruh Indonesia. Di Sulawesi Selatan potensi lahan untuk tanaman tomat cukup baik. Sasaran pengembangannya diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan lahan berdasarkan potensi yang dimiliki dan kesesuaian agroekologi.
Seiring dengan maraknya masyarakat untuk menanam tanaman tomat, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun untuk tanaman hias, pada akhirnya akan menuntut teknik budidaya. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pemberian naungan yang berguna untuk melindungi tanaman tomat dari sinar terik matahari langsung. Pemberian naungan dapat dilakukan dengan cara membuat green house ataupun dengan menggunakan plastik mulsa atau kain.
1.2.     Perumusan masalah
Bagaimanakah perbedaan pertumbuhan tanaman tomat yang diletakkan dalam ruangan (kurang cahaya) dan tanaman tomat yang diletakkan di luar ruangan (yang mendapatkan banyak cahaya)?


1.3.    Hipotesis
Hipotesa penelitian ini adalah, jika tanaman tomat diletakkan di luar ruangan maka pertumbuhannya akan lebih lambat namun daunnya tampak lebih lebar, tebal, hijau tampak segar dan batang kecambah tampak lebih kokoh. Dan jika tanaman tomat diletakkan di dalam ruangan maka batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah, daunnya berukuran kecil, tipis dan berwarna pucat tidak hijau.
1.4. Tujuan dan manfaat
1. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat.
2.     Manfaat
Manfaat yang kita ambil adalah kita dapat mengetahui pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhan tanaman tomat.








BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.     Botani tanaman tomat
Sistematika tanaman tomat dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini :
A. Klasifikasi
Kingdom    : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi    : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas    : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas    : Asteridae
Ordo    : Solanales
Famili    : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus    : Solanum
Spesies    : Solanum lycopersicum L.
B. Morfologi tanaman tomat
1.    Akar
Tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) memiliki akar tunggang yang tumbuh menembus kedalam tanah dan akar serabuat yang tumbuh ke arah samping tetapi dangkal. Berdasarkan sifat perakaran ini, tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) akan dapat tumbuh dengan baik jika ditanam ditanah yang gembur dan porous.
2.    Batang
Batang tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) berbentuk persegi empat hingga bulat, berbatang lunak tetapi cukup kuat, berbulu atau berambuat halus dan diantara bulu – bulu itu terdapat rambut kelenjar. Batang tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) berwarna hijau, pada ruas – ruas batang mengalami penebalan, dan pada ruas bagian bawah tumbuh akar – akar pendek. Selain itu, batang tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) dapat bercabang dan apabila tidak dilakukan pemangkasan akan bercabang banyak yang menyebar secara merata.
3.    Daun
Daun tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) berbentuk oval, bagian tepinya bergerigi dan mambentuk celah – celah menyirip agak melengkung kedalam. Daun berwarna hijau dan merupakan daun majemuk ganjil yang berjumlah 5 – 7. Ukuran daun sekitar (15 – 30 cm) x (10 x 25 cm) dengan panjang tangkai sekitar 3 – 6 cm. diantara daun yang berukuran besar biasanya tumbuh 1 – 2 daun yang berukuran kecil. Daun majemuk pada tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) tumbuh berselang seling atau tersusun spiral mengelilingi batang tanaman.
4.    Bunga
Bunga tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) berukuran kecil, berdiameter sekitar 2cm dan berwarna kuning cerah. Kelopak bunga yang berjumlah 5 buah dan berwarna hijau terdapat pada bagian bawah atau pangkal bunga. Bagian lain pada bunga tomat (Solanum lycopersicum L.) adalah mahkota bunga, yaitu bagian terindah dari bunga tomat (Solanum lycopersicum L.). Mahkota bunga tomat (Solanum lycopersicum L.) berwarna kuning cerah, berjumlah sekitar 6 buah dan berukuran sekitar 1 cm. bunga tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan bunga sempurna, karena benang sari atau tepung sari dan kepala benang sari atau kepala putik terletak pada bunga yang sama. Bunganya memiliki 6 buah tepung sari dengan kepala putik berwarna sama dengan mahkota bunga, yakni kuning cerah. Bunga tomat (Solanum lycopersicum L.) tumbuh dari batang (cabang) yang masih muda.
5.    Buah
Buah tomat (Solanum lycopersicum L.) memiliki bentuk bervariasi, tergantung pada jenisnya. Ada buah tomat (Solanum lycopersicum L.) yang berbentuk bulat, agak bulat, agak lonjong, bulat telur (oval), dan bulat persegi. Ukuran buah tomat (Solanum lycopersicum L.) juga sangat bervariasi, yang berukuran paling kecil memiliki berat 8 gram dan yang berukuran besar memiliki berat sampai 180 gram. Buah tomat (Solanum lycopersicum L.) yang masih muda berwarna hijau muda, bila sudah matang warnanya menjadi merah.
C. Tehnik Budidaya Tanaman Tomat
1.    Syarat Tumbuh
Tanaman tomat dapat tumbuh pada ketinggian tempat 0 - 1.250 m dpl, dan tumbuh optimal di dataran tinggi >750 mdpl. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23°C pada siang hari dan 17°C pada malam hari. Tanah yang dikehendaki adalah tanah bertekstur liat yang banyak mengandung pasir. Dan, akan lebih disukai bila tanah itu banyak mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuknya adalah netral, yaitu sekitar 6 - 7.
2.    Penyiapan Lahan Bercocok Tanam Tomat
Untuk bercocok tanam tomat dipilih lahan gembur, subur dan sebaiknya sebelumnya tidak ditanami tomat atau tanaman satu famili, seperti : cabai, terong, tembakau dan kentang. Bila pH tanah rendah diberi kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam. Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal. Untuk drainase dibuat parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air. Berikan pupuk kandang sebanyak 10 - 20 ton/ha yang dicampur dengan tanah secara merata. Bila menggunakan mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari. Lubang tanam dibuat dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm. Sterilisasi tanah media dilakukan dengan memberikan bahan kimia Besamid 3 G dengan dosis 70 gram untuk media tanam sebanyak 1m3 atau menggunakan formalin 4%.
3.    Pengadaan Benih Tomat
Pengadaan benih tomat dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan membeli benih yang siap semai atau dengan membuat benih sendiri. Apabila pengadaan benih tomat dilakukan dengan cara membeli, hendaknya membeli di toko pertanian yang terpercaya menyediakan benih yang bermutu dan bersertifikat. Pengadaan benih yang dilakukan dengan membuat sendiri adalah sebagai berikut:
a) Pilih buah tomat dari tanaman tomat yang petumbuhannya dan produksinya yang bermutu baik. Buah yang dipilih adalah buah tomat yang telah masak dan tua dan masak di pohon. Buah sehat dan tidak terserang hama ataupun penyakit.
b) Buah setelah dipetik dibiarkan sampai merekah dan berair (2 - 3 hari).
c) Biji-biji diambil setelah buah tomat merekah dan cucilah dengan air bersih, kemudian dikeringkan sehingga kadar airnya paling tinggi 12%. Biji-biji tomat yang telah dikeringkan dapat langsung disemaikan atau disimpan terlebih dahulu dalam wadah, misalnya kaleng atau botol kering sambil menunggu saatnya untuk disemaikan.
4.    Pembibitan Tomat
Tanaman tomat berkembang biak secara generatif atau melalui biji, maka perbanyakan bibit tomat dilakukan dengan bijinya. Sebelum ditanam di kebun, biji-biji tomat sebaiknya disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Pemindahan bibit ke lapang dilakukan sewaktu bibit berumur 1 bulan atau daunnya telah berjumlah 4 helai. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Gondol, Intan, Ratna dan Berlian. Kebutuhan benih 200 – 300 gram/ha.
5.    Penanaman
Bibit siap tanam berumur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6. Sehari sebelum penanaman sebaiknya bedengan diairi dahulu. Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru. Penyiraman dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), namun tidak berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Ajir dipasang sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat.
6.    Pemupukan
Pupuk yang digunakan untuk 1 Ha adalah urea 150 kg, TSP 100 kg dan KCL 50 kg. Pemupukan TSP dan KCL diberikan pada saat tanam dan urea diberikan 14 hari setelah tanam sebanyak 75 kg dan sisanya 35 hari setelah tanam.
7.    Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan mencabut gulma menggunakan tangan atau alat penyiang lainnya.
8.    Pengendalian hama dan penyakit tanaman tomat
Hama ulat yang menyerang tanaman muda dengan memotong batang dan tangkai adalah Agrotis ipsilon dapat disemprot dengan Hostathion 40 EC dan Dursban 20 ES. Hama Heliothis armigera yang menyerang buah menjadi bolong dapat diberantas dengan menggunakan Diasenon 60 EC. Rhizoktonia sp dan Pythium sp yang menyerang pesemaian dapat diberantas dengan Dhitane M-45. Penyakit busuk daun (Phytopthorasp) dapat diberantas dengan bubur bordeux. Penyakit layu dan virus keriting dikendalikan dengan mencabut tanaman yang terserang penyakit lalu dibakar.
9.    Panen Tomat
Panen tomat dilakukan sesuai dengan tujuan pemasarannya sehingga perlu diperhitungkan lama perjalanan sampai di tujuan. Sebaiknya tomat berada di pasaran pada saat masak penuh, tetapi tidak terlalu masak atau busuk. Pada saat masak penuh itulah tomat memperlihatkan penampilannya yang terbaik. Jika tujuan pemasaran adalah pasar lokal yang jaraknya tidak begitu jauh, dapat ditempuh dalam beberapa jam, panen sebaiknya dilakukan sewaktu buah masih berwarna kekuning-kuningan. Sedangkan untuk pemasaran ke tempat yang jauh atau untuk di ekspor, buah sebaiknya dipetik sewaktu masih berwarna hijau, tetapi sudah tua benar. Atau 8-10 hari sebelum menjadi masak (berwarna merah). Umur petik tergantung varietas tomat yang ditanam dan kondisi tanaman. Umumnya buah tomat dapat dipanen pertama pada waktu berumur 2 atau 3 bulan setelah tanam.
Panen dilakukan beberapa kali, yaitu antara 10-15 kali pemetikan buah dengan selang 2-3 hari sekali. Pemetikan dapat dilakukan pagi atau sore hari. Dan, diusahakan buah yang dipetik tidak jatuh atau terluka. Karena hal ini dapat menurunkan kualitas dan dapat menjadi sumber masuknya bibit penyakit.
2.2. Respon tanaman terhadap cahaya matahari
1. Intensitas Cahaya.
Intensitas cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan per satuan waktu (kal/cm2/hari). Pengertian intensitas disini sudah termasuk didalamnya lama penyinaran, yaitu lama matahari bersinar dalam satu hari, karena satuan waktunya menggunakan hari. Besarnya intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tidak sama utuk setiap tempat dan waktu, karena tergantung :
a. Jarak antara matahari dan bumi, misalnya pada pagi dan sore hari intensitasnya lebih rendah dari pada siang hari karena jarak matahari lebih jauh. Juga di daerah sub tropis, intensitasnya lebih rendah dibanding daerah tropis. Demikian pula di puncak gunung intensitasnya (1,75 g.kal/cm2/menit) lebih tinggi dari pada di dataran rendah (di atas permukaan laut = 1,50 g.kal /cm2/menit).
b. Tergantung pada musim, misalnya pada musim hujan intensitasnya lebih rendah karena radiasi matahari yang jatuh sebagian diserap awan, sedangkan pada musim kemarau pada umumnya sedikit awan sehingga intensitasnya lebih tinggi.
c. Letak geografis, sebagai contoh daerah di lereng gunung sebelah utara/selatan berbeda dengan lereng sebelah timur/barat. Pada daerah tanaman menerima sinar matahari lebih sedikit dari pada sebelah utara/selatan karena lama penyinarannya lebih pendek disebabkan terhalang oleh gunung. Bahkan lereng sebelah barat dan timur itu sendiri juga sering terdapat perbedaan terutama pada musim hujan. Hal ini disebabkan karena musim hujan biasanya banyak sore hari sehingga lebih banyak awan dibanding pagi hari, akibatnya lereng sebelah barat yang baru meneroma sinar matahari sore hari akan mendapatkan radiasi dengan intensitas yang sangat rendah.
Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sejauh mana berhubungan erat dengan proses fotosintesis. Dalam proses ini energi cahaya diperlukan untuk berlangsungnya penyatuan CO₂ dan air untuk membentuk karbohidrat. Semakin besar jumlah energi yang tersedia akan memperbesar jumlah hasil fotosintesis sampai dengan optimum (maksimum). Untuk menghasilkan berat kering yang maksimal, tanaman memerlukan intensitas cahaya penuh. Namun demikian intensitas cahaya yang sampai pada permukaan kanopi tanaman sangat bervariasi, hal ini merupakan salah satu sebab potensi produksi tanaman aktual belum diketahui.
Kebutuhan cahaya untuk pertumbuhan tanaman tomat di waktu muda (tingkat anakan) berkisar antara 50 – 85 % dari cahaya total. Untuk jenis-jenis semitoleran naungan untuk anakan diperlukan sampai umur 1-2  bulan atau sampai tanaman mencapai tinggi 1 – 2 meter. Sedangkan untuk jenis-jenis toleran lebih lama lagi yaitu 3 – 4 bulan.
Suhardi (1995) mengemukakan tanaman tomat yang ditaruh, pada tempat penuh memberikan pertumbuhan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat cahaya masuk sebahagian. Dibandingkan dengan lama penyinaran dan jenis cahaya, intensitas cahaya merupakan faktor yang paling berperan terhadap kecepatan berjalannya fotosintesis.  Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa sampai intensitas 10.000 lux, grafik kecepatan fotosintesis bergerak linear positif. Data penelitian tersebut adalah untuk tanaman dewasa, sedangkan untuk tanaman muda (tingkat semai-sapihan) belum diperoleh data. Pengurangan intensitas sinar sampai 60% berpengaruh positif nyata terhadap pertumbuhan awal tinggi dan jumlah daun, serta diameter batang tanaman tomat.


BAB III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan waktu   
Praktek ini dilaksanakan di green house Fakultas Pertanian, Universitas Cokroaminoto Palopo Jln. Sungai Rongkong pada bulan November 2011.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah benih tomat, tanah, pasir, pupuk bokashi, polybag ukuran 20 x 30 cm, kain kasa.
Alat yang dipakai adalah paku, martil, kayu, linggis, gembor, mistar, kain dan alat tulis menulis.
3.3. Metode Percobaan
Praktek ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 perlakuan yang diulang sebanyak 12 kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Dengan naungan sebagai berikut :
Po = tanpa naungan
P1 = 1 lapis naungan
P2 = 2 lapis naungan
P3 = 3 lapis naungan
3.4. Pelaksanaan Percobaan
Pelaksanaan percobaan ini meliputi pembuatan naungan, persiapan media tanam, penyemaian, penanaman, pemeliharaan dan pengamatan.
Pembuatan naungan dilakukan dengan cara menyiapkan kayu sepanjang 1 meter kemudian buat lubang dengan menggunakan linggis, setelah lubang selesai dibuat tancapkan kayu lalu buat para-para berbentuk segi empat kemudian berikan naungan kain kasa jangan lupa dipaku supaya kain kasa tidak jatuh. Kemudian persiapan media tanam dilakukan dengan cara mencampurkan tanah, pasir, pupuk bokashi dengan perbandingan 1:1:1. Pencampuran ini dilakukan dengan menggunakan tangan, setelah semua bahan sudah tercampur dengan merata, kemudian masukkan kedalam polybag, selanjutnya media tanam tersebut disiram air sampai jenuh dan biarkan selama satu minggu tujuannya agar supaya mikroorganisme yang merugikan bagi tanah dan tanaman tomat akan mati, dan juga untuk memperlancar sistem aerasi didalam tanah.
Penyemaian dilakukan dengan cara merendam terlebih dahulu benih tomat selama 15 menit dan pilih benih yang tenggelam kemudian letakkan diatas pot secara merata setelah itu tutup dengan tanah.
Penanaman dilakukan pada saat bibit tomat sudah tumbuh pada tempat penyemaian, umur bibit tomat yang akan dipindahkan pada media tanam berkisar antara 3 minggu.
Pemindahan bibit tomat dari tempat penyemaian ke tempat media tanam dilakukan dengan cara mencabut satu per satu bibit tomat dengan hati-hati, jaga agar akar pada bibit tomat tidak terputus, setelah itu buat lubang diatas media tanam dengan kedalaman 5-10 cm lalu masukkan bibit tomat tersebut, tutup lubang tanam dengan tanah kemudian lakukan penyiraman.
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman dan penyiangan, penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi ataupun sore hari dengan menggunakan gembor. Penyiangan dilakukan terhadap gulma yang tumbuh disekitar tanaman tomat, pengamatan dilakukan pada tiap 3 hari sekali untuk melihat pengaruh naungan terhadap pertumbuhan tanaman tomat.




3.5. Parameter Pengamatan
Komponen pertumbuhan yang diamati adalah :
1.    Tinggi tanaman (cm) tomat, diukur dari pangkal sampai titik tumbuh tiap 3 hari sekali.
2.    Jumlah daun (helai) tanaman tomat, dihitung jumlah daun yang terbentuk sempurna diamati tiap 3 hari sekali


















BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
A. Tabel Rata-rata tinggi tanaman tomat
Ulangan    Perlakuan
    Po    P1    P2    P3
U1    7,4    12,1    17,3    7,3
U2    8,1    12,4    27,8    8,0
U3    7,4    13,1    22,3    8,8
U4    8,2    15,5    23,1    6,3
U5    9,6    13,3    23,0    8,1
U6    8,9    15,0    26,4    7,8
U7    5,8    19,0    26,4    9,3
U8    7,4    17,0    18,1    10,7
U9    6,7    18,8    23,1    7,5
U10    8,2    13,1    22,3    9,8
U11    -    14,7    25,0    8,3
U12    -    21,8    23,4    7,7
Total    77,7    185,8    278,2    99,6
Rata-rata    7,8    14,9    23,0    8,4


Sumber : data primer diolah Januari 2012





B. Tabel rata-rata jumlah daun tanaman tomat
Ulangan    Perlakuan
    Po    P1    P2    P3
U1    7    10    11    6
U2    7    9    10    7
U3    7    11    10    8
U4    8    11    11    6
U5    8    11    10    8
U6    7    12    9    9
U7    7    13    9    7
U8    9    9    12    9
U9    7    11    10    8
U10    8    11    9    7
U11    -    12    8,0    8
U12    -    11    11    6
Total    75    131    120    89
Rata-rata    8    11    10    8


Sumber : data primer diolah Januari 2012
B. Pembahasan
Pemberian naungan pada tiap perlakuan tanaman tomat menunjukkan hasil yang berbeda, pada naungan yang menggunakan kain 1 lapis (P1) menunjukkan hasil yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman tomat, sedangkan pada naungan yang menggunakan kain 2 lapis (P2) juga sama menunjukkan hasil yang nyata, bila dibandingkan dengan pemberian naungan kain 3 lapis (P3) sangat sedikit menunjukkan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Hal ini mungkin didasari dengan pertumbuhan tanaman tomat yang menginginkan suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 23°C pada siang hari, sehingga dengan adanya perlakuan pemberian naungan 1 dan 2 lapis kain merupakan suhu yang tepat untuk perkembangan tanaman tomat.
Dilihat dari diagram rata-rata jumlah daun tanaman tomat, yang menunjukkan pengaruh perkembangan jumlah daun dibandingkan dengan Po (kontrol), yakni pada P1 (1 lapis kain) dan P2 (2 lapis kain) dimana pada P1 dan P2 memberikan pengaruh yang nampak terhadap pertumbuhan jumlah daun, sedangkan pada P3 tidak menunjukkan pengaruh apapun.
 
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.    Kesimpulan
1.    Hasil percobaan menunjukkan bahwa:
a.    Tanaman di dalam ruangan mengalami pertumbuhan lebih cepat dan mempunyai batang yang lebih tinggi, daunnya berukuran kecil, tipis, berwarna pucat, batang melengkung dan tidak kokoh.
b.    Tanaman di luar ruangan pertumbuhannya lebih lambat, daunnya lebih lebar dan tebal, berwarna hijau, batang tegak dan kokoh.
c.    Cahaya merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan.
5.2. Saran
a. Dalam praktik ini sebaiknya didampingi dosen yang bersangkutan, sehingga mahasiswa dapat bekerja lebih serius lagi.
b. Sebaiknya percobaan dilakukan dalam waktu yang lebih lama agar terlihat lebih jelas dan lebih detail dalam menyimpulkan perbedaan antara tumbuhan yang cukup cahaya dan kurang cahaya matahari. 
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Botani dan Morfologi Tanaman Tomat. Universitas Sumatera Utara.
Anonim, 2011. Morfologi dan Klasifikasi Tanaman Tomat. Diakses di http://mukegile08.wordpress.com/category/sistematika-dan-morfologi-tanamantomat/
Anonim, 2001. Pengaruh Cahaya Terhadap Tanaman Tomat. IPB. Bogor.
Sihotang B., 2010. Budidaya Tanaman Tomat. Diakses di http://www.ideelok.com/budidaya-tanaman/tomat/page-1&2.